Teknologi Bagiku, Kebutuhan dan Pelarian

Izinkan saya mengenang kembali masa-masa pertama kali saya bertemu dengan handphone. Di kelas tiga SMP adalah pertama kalinya saya memiliki hp. Nokia 2100, lungsuran dari kakak saya, maklumlah nasib adek. Senang sekali rasanya saat itu, satu per satu fitur langsung saya coba. Salah satu favorit saya fitur composer, yang bisa bikin ringtone sendiri itu lho.

Tapi takdir memisahkan kami kira-kira 2 tahun kemudian. Nokia 2100 dicolong orang. Huwwaa.. Langsung lah bongkar tabungan beli baru, sodaranya, Nokia 1110. Haha..

Nokia 1110 ini unik karena background warna layarnya hitam, tulisannya kuning. Secara fitur mirip banget dengan 2100. Dan yang saya sangat suka juga dari Nokia jadul adalah fitur “send later” di SMS. Apalagi bagi orang yang sering lupa macem saya ni, misal mau SMS jam berapa, tinggal diketik terus di-setting jam kirimnya, dan tadaaa, SMS otomatis terkirim di jam tersebut. Handphone ini awet sampai akhirnya saya hibahkan pada adik saya, dan tamat riwayatnya di tangan dingin adik saya.

Long story short, saya kemudian membeli Motorola seri Q9 kalau ga salah. Dan disinilah handphone menjadi lebih dari sekedar alat komunikasi. Karena tak punya laptop, saat itu saya sering ngetik di hp, karena ada fitur Ms Word-nya. Awalnya saya agak menyesal beli Motorola ini, karena dimensi layarnya yang tidak umum, tidak banyak game yang kompatibel. Tapi setelah menemukan games yang seru, beuuh, langsung jatuh hati.

Semakin hari handphone makin melekati diri. Apalagi ketika sempat memiliki N-gage QD, jadi sering nge-game, browsing, dan lain-lain. Mulai juga ada Facebook. Handphone benar-benar menjadi bagian diri ini.

N-gage ini, sedihnya, harus berakhir tragis, mengikuti jejak Nokia 2100 (baca: dicopet).

Setelah N-gage QD inilah baru saya terjun ke handphone Android. Pilihan jatuh pada Samsung Galaxy Chat. Kenapa? Pertama, because it’s Samsung. Kedua, karena murah. Haha.. Maklumlah, disesuaikan dengan kantong mahasiswa kala itu. Walaupun murah, alhamdulillah Samsung Galaxy Chat itu cukup awet, tidak ada kerusakan fatal.

Pada tahun 2016 awal barulah saya terpaksa menggantinya dengan Sony Xperia Z5 karena suami sudah geregatan lihat saya pakai Galaxy Chat yang lemot. Hahaha..

Dengan Xperia Z5, tak perlu ditanya lah seberapa besar peran handphone dengan segala fiturnya. Wong kuliah aja bisa via handphone. Haha..

Di sisi lain, sebenarnya saya bukan penggemar teknologi digital, jarang mengikuti perkembangannya. Namun pernah ada suatu masa ketika saya mengikuti setiap berita teknologi.

Sekitar pertengahan tahun 2014 sampai 2015, saya menjadi content writer di sebuah media online baru. Saya dan beberapa rekan bertugas mengisi kanal lifestyle, termasuk di dalamnya kesehatan dan selebritas. Lama-lama saya kurang nyaman di kanal tersebut.

Bertepatan dengan itu, content writer teknologi kosong. Jadilah saya menyusup pelan-pelan ke kanal teknologi. Sampai akhirnya sang atasan menugaskan saya untuk fokus mengisi kanal teknologi saja. Muahahaha..

Mengikuti perkembangan berita teknologi setiap harinya membuat saya jadi cukup melek teknologi. Saya pun cukup terkejut karena ternyata teknologi sudah sangat pesat berkembang. Sampai ada virtual reality, augmented reality, maupun gawai-gawai semacam smartwatch, dan macam-macam.

Sayangnya, saya berhenti mengikuti berita teknologi seiring saya keluar dari pekerjaan tersebut. Sekarang jadi merem teknologi lagi deh. Wkwk..

Pasti saat ini di luar sana telah banyak teknologi terbaru yang tak terpikirkan sebelumnya. Yah, semoga saja banyak orang yang dapat merasakannya dan tak hanya kalangan kaya raya.

11 Replies to “Teknologi Bagiku, Kebutuhan dan Pelarian”

  1. Saya juga gak melek dan mengikuti teknologi kok mbak…taunya apa yang ada di hape itulah yang dipake..kalo ditanya tentang teknologi, kadang melongo juga saking gak ngertinya 🙁 dan kalo pengen beli tapi harganya jute jute…alamak..mundur mundur syantek lah… hahha

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *