Tentang Ibu Mertua

Ibu mertua oh ibu mertua…

Terlalu banyak kisah tentang mertua yang saya dengar, dan kebanyakan adalah kisah tidak menyenangkan. Ada ibu mertua yang pelit, ada yang sering merecoki, ada yang sering melarang-larang, dan banyak lagi. Awalnya saya biasa saja mendengar kisah-kisah tersebut. Namun kelamaan, saya jadi tergugah untuk menulis tentang ibu mertua saya. Karena ibu mertua saya itu, masyaAllah, baiik banget!

Alhamdulillah saya mempunyai seorang ibu mertua yang berhati baik, sikap dan tutur katanya pun lemah lembut. Beliau memperlakukan saya layaknya anak sendiri. Ketika saya mengabarkan akan melahirkan, padahal saya baru pembukaan dua, beliau langsung datang ke rumah sakit dengan membawa tas baju saya. Bahkan bapak mertua saya langsung izin dari kantor, waktu itu jam dua, dan datang ke rumah sakit juga. Duh, jadi ngga enak banget saya, padahal lahirannya ternyata baru jam 10 malam.

Setelah lahiran, saya tinggal di rumah mertua di Jakarta, sementara suami di Batam. Agak sedih juga karena LDM-an, tapi lagi-lagi alhamdulillah, ibu mertua saya sangat baik. Beliau yang setiap hari memandikan anak saya, beliau juga yang mencucikan baju anak saya. Ini terus beliau lakukan selama tiga bulan saya di sana. Bukan saya yang minta, lho. Hehe.

Beliau juga sangat tidak pelit. Setiap kali belanja bulanan, beliau tak lupa membelikan popok, dan macam-macam cemilan untuk saya yang bawaannya laper selalu. Maklum lah, busui ya kan.

Tak hanya itu, beliau juga sering memberikan barang-barang pada saya. Mulai dari dompet, baju, kerudung, sampai sepatu. Pernah suatu kali beliau mengajak saya dan suami ke acara keluarga besar di sebuah hotel bintang lima. Padahal saya tak bawa baju formal, dan beliau pun memberikan salah satu baju batiknya untuk saya.

Hh.. Ibu, ibu.. Maafkan menantumu ini yang banyak merepotkan. Apalagi kalau urusan dandan. Untungnya ibu mertua saya bersedia dengan sabar mendandani saya yang sama sekali tidak bisa dandan ini.

Salah satu keluhan yang biasa saya dengar tentang ibu mertua adalah suka mengatur atau ikut campur. Nah, hal ini juga saya sempat khawatir ketika awal menikah. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Mertua saya, baik bapak maupun ibu, tak pernah mengatur atau merecoki urusan rumah tangga saya dan suami. Beliau hanya sesekali bertanya, atau memberi pendapat, itu pun jika diminta. Namun beliau tak pernah memaksakan pendapatnya.

Tentu saja, tak ada ibu mertua yang sempurna. Adakalanya saya kurang sreg dengan keinginan atau pendapat ibu mertua, tapi ini sangat wajar. Bahkan dengan ibu kandung saja kita tak selalu satu suara, kan? Yang terpenting adalah saling menerima, memahami, menyayangi, dan menghormati. Saya masih harus banyak belajar tentang ini.

Demikian “uneg-uneg” saya tentang mertua. Semoga mertua, dan ibu kandung saya, selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Dan semoga Allah selalu merahmati rumah tangga kita semua dan menjaga hubungan kita dengan mertua. Aamiin..

Bagi yang belum punya mertua, semoga segera mendapat mertua yang baik yaa. 🙂

2 Replies to “Tentang Ibu Mertua”

Monggo Komentar