Hai Big5, Apa Kabar Kalian Semua?

Berawal dari ruangan itu, sebuah ruangan kecil, tempat kita saling bertukar ide, bertukar cerita, berkumpul, bergembira. Ada juga air mata, ada gundah gulana, ada rasa marah yang hilang seketika. Namun semua itu indah ketika sudah berlalu begitu lamanya.

Apa kabar kalian semua sekarang?

Haii Pak Ketua yang dulu salah sebut retorika dengan rektorat. Sekarang udah ngantor di rektorat kah? Atau jadi ahli retorika nih jangan-jangan. Ups..

Haii Ochiit yang dulu nangis bareng gara-gara ga dibolehin izin dari sekolah. Sekarang suka ngizinin muridnya keluar kah? Hehehe..

Haii Septii yang rajin dan baik hati. Ah, tentu tambah rajin dan baik hati yak. Sudahkah menemukan tambatan hati? Eh, maap.

Haiii Chichiiii yang selalu ceria dan membuat suasana gembiraaa.. Sekarang sudah punya dua bujang yang bisa bikin ceria juga yaa..hehehe..

Tiba-tiba teringat ketika kita jalan bersama. Ke Taman Mini, ke Ragunan, dan yang paling sering, ke KFC. Sekarang KFC sering promo Big5 lho, lima potong ayam hanya 50ribu. Cocok tuh buat kita. Hahaha.

Teringat ketika jatuh bangun kita menyiapkan berbagai acara, berbagai kegiatan. Entah sudah berapa rapat kita lalui, kadang tanpa hasil yang jelas. Haha..

Masih ingat kah ketika menjadi panitia Plata? That’s memorable for me. Ochit, ingat kan? Ada kejadian yang bikin kesel sekaligus sedih berujung mewek.. Huhuu..

Kalau RIKS, ingat? Yang pesertanya satu, panitianya rame. Wkwk.

And one big thing for SKIR that year, HUT SKIR. Ffiuuhh.. Capek ya, angkat-angkat bangku dan meja demi kelas siap untuk lomba. Hahaha.

Hhh.. Sudah sepuluh tahun lebih sejak masa-masa itu. Tak terasa ya. Ya, tak terasa. Karena banyaknya cerita. Banyaknya momen bersama. Banyaknya senyum dan tawa. Bahkan setelah berpisah, ada yang di sini ada yang di sana, semoga rasa itu selalu ada. Semoga selalu terselip doa untuk kebaikan kita semua. Semoga Allah menjaga pertemanan kita, sebuah ikatan yang terjadi begitu saja. Semoga Allah memberkahi kita, menuntun hati-hati kita, agar bisa berkumpul di atas jalan-Nya.

Kawan-kawanku yang baik hatinya, yang tetap kusayangi walaupun tak main bareng lagi. Bagiku, kita tetap keluarga, walau tak sering lagi bersua.

P.s.: Semoga Ochit, Septi, dan Dhani, segera bertemu jodohnya. Hehehe..

Review Buku Salihah Mom’s Diary

Salihah Mom's Diary
Salihah Mom’s Diary

Judul: Salihah Mom’s Diary

Penulis: Dewi Nur Aisyah dan MommeeID

Penerbit: Ikon

Tahun terbit: 2017

Tebal: 273 halaman

Hah? Udah selesai?

Begitulah kira-kira celetuk saya ketika selesai membaca buku Shalihah Mom’s Diary. Karena saya begitu terlarut dengan kisah para shalihah moms di dalamnya. Hehe..

Especially beberapa cerita terakhir menurut saya lebih ‘dalem’ dan pengemasannya apik.

Buku ini adalah antologi, ditulis oleh beberapa orang. Yang paling banyak adalah tulisan Kak Dewina, alias Dewi Nur Aisyah. Saya pribadi senang dengan tulisannya karena selalu memberi efek positif. Semua hal dimaknai positif, dan tetap menunjukkan bahwa ibu bukanlah malaikat, namun ibu selalu bisa belajar menjadi lebih baik.

Layaknya buku antologi, ada banyak kepala, ada banyak ide, ada banyak cara bercerita. Ada kisah yang membuat saya agak ‘keki’ juga karena nampak seperti curhat yang penuh keluhan. Tapi ada banyak kisah penuh hikmah, penyemangat, inspiratif. Kisah “Happy Cooking” misalnya, cukup membuat saya ingin coba memasak dengan lebih baik. Terasa sekali feel dan semangat penulis dalam memotivasi emak-emak untuk belajar masak.

Salihah Moms Diary
Quote

Lain cerita dengan kisah “LDR? No Problem!” yang saya bisa relate sedikit sebagai emak perantauan karena ngikut suami. Dan membuat saya cengar-cengir sendiri setelah membacanya karena ternyata penulis (dan suaminya) adalah teman seangkatan saya di kampus. Wkwk..

Buku ini juga diselingi quote seputar pengasuhan yang menambah efek ‘dalem’ bagi saya.

Salihah Moms Diary

Sebelum selesai membaca semua cerita, saya baca profil penulisnya secara acak. Eh, kok anak UI semua ni? Rupanya buku ini memang karya Kak Dewina dan Mommee.org yang merupakan wadah bagi muslimah alumni UI. Jadi pingin ikutan deh, ikut jadi sholihah mom. Hehe..

Secara fisik, buku ini cocok dengan peribahasa “don’t judge the book by its cover” karena saya kurang suka dengan font pada bagian blurb atau cover belakang buku. Untunglah dalam kasus ini saya judge the book by its writer.

Layout halaman juga menarik, padahal buku ini harganya cukup murah menurut saya, tapi layout-nya bagus. Saya senang dengan buku dengan layout bagus karena bisa menjadi hiburan juga bagi mata.

Info tambahan, buku ini saya beli di Tokopedia, sepaket dengan buku Aweinspiring Me dengan harga Rp115.000 saja.

Mainan Jaman Dulu: Dengan Kertas dan Pensil Bisa Main Seru

Ah, jaman dulu, segala sesuatu memang rasanya sederhana. Bahagia begitu sederhana. Bayangkan saja, hanya bermodal seorang teman, sebuah kertas dan pensil, bisa langsung bermain permainan seru. Permainan apa? SOS.

Yap, saya yakin banyak yang tau permainan ini, iya kan? SOS, adalah permainan yang sangat simpel. Pemain hanya perlu menuliskan satu huruf (S atau O), untuk kemudian membentuk garis S-O-S. Siapa yang membentuk garis SOS paling banyak, maka dia pemenangnya.

As simpel as it is, it could be boring. But still, permainan ini sering saya mainkan ketika sedang di kelas, atau di rumah. Karena main SOS ini tidak perlu keluar keringet layaknya batu tujuh dan lain-lain. Jadi sangat cocok untuk saat-saat santai dan di hari panas terik. Hehe..

Jadi, apa permainan tradisional favoritmu?

Mainan Jaman Dulu: Umpetin Barang

Ini entah mainan ada dimana-mana atau hanya kreasi anak-anak sekitar. Yang jelas main umpetin barang adalah salah satu favorit kami.

Cara mainnya simpel, sama seperti petak umpet, hanya saja yang ngumpet bukan orang, melainkan barang. Jadi setiap pemain memilih satu barang, benda apa saja, untuk diumpetin. Yang giliran jaga bertugas mencarinya. Kalo dipikir-pikir sekarang, sebenarnya ini permainan sulit. Karena barang yg diumpetin itu benda kecil, seperti bungkus permen misalnya. Umpetinnya bisa dengan digulung kemudian masukin di sela tembok, atau di balik batu. Walaupun area main dibatasi, tetep aja sulit. Tapi herannya, tetep aja bisa kami memainkan itu.

Kami lumayan sering main ini karena kemudahannya itu. Ga perlu peralatan, ga perlu banyak orang.

Mainan Jaman Dulu: Karet, Play ‘Til Drop

Salah satu permainan yang amat tenar di kalangan anak perempuan: karet. Wah, ini permainan semacam mempertaruhkan gengsi. Paling seneng kalau segrup dengan teman yang memang jago main karet. Saya sendiri standar aja, bisa lompat palingan sampat kepala. Itu pun kalau yang jaga ngga tinggi-tinggi banget. Dan level paling sulit adalah pipisan, karena ga boleh kena sama sekali guys. Suseehh..

Jenis permainan karet yang cenderung lebih mudah adalah main sasa (bukan merk yak.hehe). Main sasa ini seperti melatih ketahanan, kalau di bahasa kesehatan olahraga itu endurance. Sedangkan jenis yang pertama tadi (yang pipisan sampai merdeka) itu sepertinya lebih melatih power atau kekuatan. Sok tau yak. Maap.

Ada lagi variasi lain dari permainan karet yaitu main mata kaki, lupa istilahnya apa. Ini juga seru sih, lebih kepada melatih kelenturan kayaknya, kaki terutama. Jika hanya main berdua, bisa tetap main mata kaki ini dengan disangkutkan ke pohon. Wkwk..

Main karet ini enaknya sore hari, karena sudah adem, dan kalau keringatan (yang mana sebuah keniscayaan dalam permainan ini) bisa langsung mandi. paling ngga enak kalau main karet sebelum masuk kelas, karena after effect-nya guys, baju basah dengan keringet, dan mungkin bisa bauu. Tentunya belajar jadi kurang fokus ya.

Yang terpenting dari main karet adalah, bikin karetnya dulu guys. Iyalah, gimana kan mau main kalo karetnya masih berceceran. Daan, bikinnya ga perlu tebel-tebel, karena makin tebel memang makin kuat, tapi ketika bersentuhan dengan kulit juga sakit. Apalagi kalo mainnya sasa. Duh, bisa merah-merah deh kaki. Jangan lupa juga adanya risiko karetnya putus ketika terlalu bersemangat. hehe.

#sepekanbercerita #rumbelnulisipbatam