Mainan Jaman Dulu: Dengan Kertas dan Pensil Bisa Main Seru

Ah, jaman dulu, segala sesuatu memang rasanya sederhana. Bahagia begitu sederhana. Bayangkan saja, hanya bermodal seorang teman, sebuah kertas dan pensil, bisa langsung bermain permainan seru. Permainan apa? SOS.

Yap, saya yakin banyak yang tau permainan ini, iya kan? SOS, adalah permainan yang sangat simpel. Pemain hanya perlu menuliskan satu huruf (S atau O), untuk kemudian membentuk garis S-O-S. Siapa yang membentuk garis SOS paling banyak, maka dia pemenangnya.

As simpel as it is, it could be boring. But still, permainan ini sering saya mainkan ketika sedang di kelas, atau di rumah. Karena main SOS ini tidak perlu keluar keringet layaknya batu tujuh dan lain-lain. Jadi sangat cocok untuk saat-saat santai dan di hari panas terik. Hehe..

Jadi, apa permainan tradisional favoritmu?

Mainan Jaman Dulu: Batu Tujuh, Makin Rame Makin Seru

Main, adalah sebuah kata yang tak bisa dipisahkan dari dunia anak-anak. Bermain dengan saudara, teman-teman, orang tua, menjadi pengalaman berharga bagi anak-anak. Menjadi cerita indah ketika dewasa.

Sebagai anak kelahiran tahun 90-an, saya gemar sekali bermain permainan tradisional bersama teman-teman sekitar rumah. Salah satunya yang paling seru adalah permainan batu tujuh atau sering disebut juga “boy-boyan” atau bola gebok.

Batu Tujuh/ Bola Gebok/ Boyboyan (Sumber: Little Mice Game Over)

Cara bermainnya dengan menumpuk 7 buah pecahan batu genteng kecil-kecil, kemudian pemain melemparkan bola dari jarak kira-kira dua meter. Jika bola berhasil menjatuhkan batu, maka pemain yang bertugas “jaga” harus mengambil bola dan berusaha melemparkan bola tersebut ke arah pemain lain. Pemain yang kena bola tentu harus bergantian jaga. Sementara itu, pemain yang tidak berjaga punya dua tugas; berlari menghindari bola, sekaligus berusaha menumpuk kembali ketujuh batu. Walaupun tidak sesulit menemukan 7 bola naga, tapi menyusun batu ini juga butuh trik, kelihaian, ketangkasan, dan tentunya kecepatan. Hehe. Continue reading “Mainan Jaman Dulu: Batu Tujuh, Makin Rame Makin Seru”