Jalan-jalan Liburan: Menjajal Kereta Bogor-Sukabumi

Dalam rangka liburan panjang bulan Juni-Juli, saya lagi-lagi menyempatkan berkunjung ke rumah kakak saya di Sukabumi, tepatnya di Cicurug. Kenapa sih demen banget jalan-jalan ke sinii? Selain karena silaturahim, juga karena tempatnya dingiiinn, di kaki gunung salak. Jadi berasa bener-bener kayak liburan gitu. Kalau di Jakarta kan hawanya sibuk, macet, padet. Kalau di Cicurug itu adem, tenang, pemandangan sawah hijau, langit biru. Tengok ke kiri Gunung Salak, tengok kanan Gunung Gede, gimana ngga fresh coba? Makanya, walaupun rempong, saya sempatkan main ke sini. Continue reading “Jalan-jalan Liburan: Menjajal Kereta Bogor-Sukabumi”

Mendadak Nginep di Airy Room Penuin Center Batam

Beberapa waktu lalu mertua saya datang menjenguk kami di Batam. Wahh.. senang sekali rasanya dikunjungi orang tua walaupun hanya beberapa hari saja. Kata-kata liburan langsung terbayang di pikiran saya. Sayangnya kondisi rumah kami tidak memungkinkan untuk orang tua menginap. Pasalnya, tak hanya mertua, eyang yang sudah lanjut usia pun ikut berkunjung. Karena itulah saya dan suami lebih memilih agar eyang dan mertua menginap di hotel supaya bisa lebih nyaman selama di Batam.

Mertua menanyakan hotel yang recommended. Awalnya kami bingung memilihkan hotel yang cocok, baik secara lokasi, fasilitas, dan tentunya harga. Terlebih saat itu bertepatan dengan long weekend, biasanya tarif hotel melesat bahkan bisa dua kali lipat. Weks!

Tiba-tiba saya teringat seorang teman pernah menggunakan Airy, saya pun mengusulkan Airy pada suami dan dia setuju. Langsung lah jemari menari-nari di aplikasi Airy, mencari-cari kamar yang pas. Pilihan jatuh pada Airy Room Penuin Center. Fasilitas keren dan harganya pun tidak surging, jadi #KapanAjaBisa pesan dengan harga murah. Yeay!

Hari yang dinanti-nati tiba. Siang itu kami menjemput mertua di bandara kemudian mengisi perut dulu alias makan siang di salah satu rumah makan di ruko BCL. Barulah setelahnya kami melaju ke hotel untuk istirahat. Awalnya saya sempat khawatir servis dari pihak hotel akan kurang memuaskan atau ribet karena kami memesan via Airy–yang memberi harga lebih murah dibanding rate normal. Tapi ternyata tidak. Proses check in lancar, servis kamar pun tetap baik.

Airy Room Penuin Center (Airy)

Kami memesan dua kamar yang dilengkapi dengan connecting door, untuk tiga malam. Sesampainya di kamar, kami disambut dengan cemilan khusus dari Airy. Saya yang bawaannya laper terus (maklum lah busui) langsung memandang cemilan ini bak harta karun (seperti packaging-nya..haha). Oiya, cemilan ini di-restock tiap hari lho! #penting

Cemilan Airy Room

Tambahan lain yang saya dapati di kamar ini adalah perlengkapan mandi yang dikemas dalam bag khusus. Jujur saja, saya penyuka hal-hal kecil seperti ini. Lucu dan bisa dibawa pulang sehingga bisa dipakai kalau pergi-pergi.hehe. Walaupun tidak ikut menginap, tapi saya ikut menikmati fasilitas kamar Airy Room Penuin Center ini.

Puas mengisi tenaga, kegiatan kami selepas magrib adalah mencari makan malam. Tak jauh dari hotel, ada warung-warung tenda yang menyajikan seafood. Rasanya tak kalah dengan seafood restoran, dengan harga bersahabat.

Keesokan harinya, kami berwisata di daerah Nagoya. Wisata yang bisa dilakukan di sini salah satunya adalah cuci mata melihat tas-tas berbagai merk. Dari satu toko ke toko lain kami kunjungi. Ngga beli pun, soale ngga nemu yang cocok. Setelah itu kami juga menyambangi mall BCS untuk membeli cemilan dan oleh-oleh. Mall ini tak jauh dari hotel sehingga menghemat waktu dan tenaga. Malam harinya kami kembali berwisata kuliner dengan mencicipi sop ikan Yong Kee di Batam Center. Bagi penggemar ikan,  tak lengkap rasanya jika tidak mencoba menu ini.

Selain cuci mata dan mencicip sop ikan, hal lain yang wajib dilakukan ketika ke Batam adalah mengunjungi Jembatan Barelang. It’s a must. Yup, jembatan ini adalah salah satu ikon Kota Batam. Tentu saja kami tak melewatkan kesempatan berfoto ria. Tak hanya sampai jembatan satu atau dua, kami melanjutkan perjalanan sampai ke Kampung Vietnam.

jembatan barelang
Jembatan Barelang

Perjalanan jauh membuat saya dan suami tepar jua. Akhirnya malam itu kami memutuskan ikut menginap di hotel. Lagi-lagi, kami mem-booking melalui aplikasi Airy. Untunglah, walaupun dadakan, masih ada kamar tersedia. Ada promo pula. Alhamdulillah. Memang deh, #KapanAjaBisa nginep kalau pakai Airy.

Kami memesan kamar yang lebih kecil, namun tetap lengkap dengan cemilannya. Hehe.. Saya, suami, dan anak kami yang ketika itu baru berusia sepuluh bulan pun tidur nyenyak. Maklum, sudah capek seharian jalan-jalan ke Barelang dan tempat wisata lainnya. Keesokannya kami bangun dengan segar. Thole pun kelihatan happy sekali saat bangun tidur.

Hari Minggu siang, mertua dan eyang kembali ke Jakarta. Ahh.. Sedih deh.. Liburannya selesai. Tapi kami senang karena mertua dan eyang puas jalan-jalan dan menginap di Batam. Saya dan suami pun puas telah memilih Airy Rooms karena kemudahan booking, harga murah, lokasi strategis, dan pelayanan baik.

“Bunda, Jangan Marah”

Menceritakan sebuah pengalaman yang bisa menginspirasi membuat saya kembali membuka lembaran yang telah dilalui. Semoga salah satu pengalaman saya ini bisa memberi inspirasi para emak-emak.

Kali ini berhubungan dengan pengalaman saya ketika menjadi pembin asrama di sebuah sekolah asrama. Kala itu, ada seorang murid kelas 8, sebut saja Lala. Lala ini ceritanya sakit mata, dan menurut aturan sekolah, kalau anak sakit mata maka sebaiknya dipulangkan dulu karena khawatir menular. Akan tetapi Lala menolak, dengan keras.

“Saya ngga mau pulang, Bu! Ini gak apa-apa.”

“Tapi kalo temen-temen ketularan, gimana?”

“Pokoknya saya ga mau pulang!”

Tanpa persetujuannya, saya pun mengabari ibunya dan meminta agar Lala dijemput. Kira-kira dua jam kemudian sang ibu datang, Lala kaget. Ia masih bersikukuh menolak dan tetap diam di kamarnya. Saya pun meminta ibunya Lala untuk menunggu di mobil sembari saya membujuk Lala.

Di atas kasurnya, Lala masih duduk memeluk kakinya dan menangis. Ia benar-benar tak ingin pulang. Setelah bertanya-tanya, ternyata yang membuatnya enggan pulang adalah sikap kasar ibunya.

Menurut cerita Lala, ibunya seringkali memarahi bahkan bertindak kasar hanya karena kesalahan kecil. Hal itu membuat Lala takut untuk pulang. Saya pun kasihan melihatnya. Tapi saya tetap harus membujuknya untuk pulang.

Satu per satu ceritanya saya dengarkan, barulah saya berusaha menasihatinya. Bahwa ibunya tentu tak berkeinginan berbuat demikian. Bahwa memarahi anak juga merupakan hal yang menyakitkan bagi seorang ibu. Dan walaupun sulit, saya meminta Lala untuk memaafkan ibunya, dan berusaha memahami. Serta menghindari hal-hal yang bisa membuat ibunya marah.

Tak kurang setengah jam saya habiskan membujuknya, sampai akhirnya berhasil. Lala pun tak lagi menolak untuk dipulangkan sementara. Perasaan lega muncul, namun juga miris.

Terlalu banyak pelajaran yang saya dapat hari itu. Tentang bagaimana perasaan seorang anak dapat terlukai, hingga membuat lingkungan di luar rumahnya lebih ia sukai. Tentang cara bersabar saat menghadapi anak-anak, dan banyak lagi.

Perlu dicatat juga bahwasannya ibunya Lala juga sangat baik pada Lala. Ia memilihkan sekolah yang menurutnya terbaik, memberikan berbagai fasilitas, mengajak jalan-jalan, dll. Namun rupanya semua itu tak lantas menghapus memori buruk dalam diri Lala.

Now that i have a son myself, hope i can protect my son from my anger.

Yap, semoga secuplik pengalaman ini bisa bermanfaat bagi kita.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa juga kunjungi blog teman saya, mba Moniq, yaa untuk tulisan inspiratif lainnya.. 😉