Main-main dengan Anak di Rimba Baca

Liburan telah berakhir, tapi Thole dan mamanya masih ngetem di Jakarta karena satu dan lain hal. Daripada diem-diem aja di rumah, orang rumah pun sudah pada mulai kerja, akhirnya saya iseng mencari tempat yang bisa dikunjungi. Tentunya yang ramah anak, karena percuma jalan-jalan kalau ngga ramah anak, yang ada mamak capeek doang. Wkwk..
Setelah browsing sebentar, pilihan jatuh pada Rimba Baca. Rimba Baca adalah sebuah perpustakaan ramah anak yang terletak di Cilandak, Jakarta Selatan. Di bagian luar, perpustakaan yang berlokasi tak jauh dari RSUP Fatmawati ini memang hanya tampak seperti rumah-rumah lainnya. Namun setelah masuk tentu beda sekali. Continue reading “Main-main dengan Anak di Rimba Baca”

Anak Belum Bisa Baca? Bacakan Dulu!

“Menstimulasi Anak Senang Membaca” hal pertama yang terbesit ketika mendengar judul materi ini adalah “gimana baca, wong ngomong aja belom bisa?”. Ya, awalnya saya pesimis. Pasalnya Thole, di usia yang sudah 16 bulan, baru bisa mengucap jelas kata “mama”. Itu pun kalau lagi merengek minta sesuatu. Nah, gimana pula mau baca?

Ah, emang mamamu ini masih fakir ilmu ya Le.

Materi pun digulirkan, tantangan dilayangkan, saya coba jalankan walaupun ada keraguan. Tapi yang penting adalah konsistensi. Mulai dari hari pertama, saya mencoba serius membacakan dia buku. Saya pun bacakan dengan suara lantang, ekspresi yang lebay, dan lain-lain supaya dia tertarik. Tak hanya sekali, dalam satu hari saya bacakan buku beberapa kali.

Satu, dua, tiga, sampai akhirnya sepuluh hari saya lakukan tantangan tersebut. Hasilnya, it amazed me. Ada beberapa perubahan–yang menurut saya cukup drastis–dari respon Thole. Yang tadinya dia cuek, sekarang dia kelihatan interested bahkan excited. Kedua, Thole sudah hafal buku-bukunya. Misal saya katakan “Hewan-hewan di Hutan” dengan nada tertentu, dia akan langsung mengambil buku Hewa di Hutan. Begitupun dengan buku-buku lain. Dia sudah hafal!

Ketiga, Thole mulai baca sendiri! Oke, ini lebay, tentu saja dia belum bisa membaca. Tapi sekarang dia suka buka-buka buku sendiri terus ngoceh-ngoceh ga jelas seolah sedang membaca. Wow!

Keempat, dia juga sudah hafal ketika saya bilang, “membaca bukuuu!” dengan lantang. Dia akan langsung menuju tumpukan bukunya. Masya Allah, ternyata memang benar, anak kecil itu sudah dibekali kepintaran, tinggal bagaimana orang tua membangkitkannya saja.

Dengan demikian, materi kelima di kelas Bunda Sayang ini menjadi salah satu favorit saya, so far.

Oiya, satu lagi, sebenarnya tugasnya adalah membuat pohon literasi ya. Akan tetapi karena buku yang dibaca diulang-ulang, alhasil daunnya hanya segitu-gitu saja. Malah yang nambah lebat rantingnya. hehe..

Nah, satu hal lagi yang perlu saya ingat. Kemampuan membaca bukanlah langkah pertama, melainkan sebuah proses dalam melatih keterampilan berbahasa yang diawali dengan keterampilan mendengarkan. Jadi, membacakan buku adalah langkah awal yang memang penting. Berikut tahapan melatih keterampilan berbahasa (diambil dari materi kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch 3):

  • Keterampilan mendengarkan (listening skills)
  • Ketrampilan Berbicara (speaking skills)
  • Ketrampilan Membaca (reading skills)
  • Ketrampilan Menulis (writing skills)