Review Buku: Muslimah Sukses Tanpa Stres

Judul: “Muslimah Sukses Tanpa Stress”

Penulis: Dr. Erma Pawitasari

Penerbit: Gema Insani

Tahun Terbit: 2015

Harga: Rp50.000 (di Blok M Square lantai dasar, ntah kalau di toko lain)

sumber: gemainsaniblog.wordpress.com

Ketika membaca judul buku ini, dan melihat sekilas covernya, yang tercetus dalam benak saya adalah “mungkin ini semacam buku motivasi bagi muslimah”. Saya pun merasa buku ini cocok untuk adik saya yang sedang stres karena belum dapat kuliah. Adik saya juga yang pertama memilih buku ini saat kami berkunjung ke sebuah di toko buku di Blok M Square.

Pulang lah kami dengan membawa buku ini. Kemudian Adik saya membacanya duluan. Ternyata dia hanya membaca bab terakhir karena dia merasa belum menjadi istri ataupun ibu sehingga bab-bab sebelumnya tidak cocok dengan keadaan dia saat ini. Saya pun coba iseng baca satu dua halaman, kemudian halaman selanjutnya.. Halaman selanjutnya.. Tanpa terasa satu bab sudah saya baca. Continue reading “Review Buku: Muslimah Sukses Tanpa Stres”

Tentang Thole: Ndut, Ya!

Bismillah..

Sejak Thole lahir, sudah puluhan atau bahkan mungkin ratusan kali saya menerima ujaran-ujaran seperti “Wah, ndut banget!”, “Wah, gemuk kali!”, “Ya ampun, dedeknya besar, mamaknya kecil”. Bahkan sampai sekarang masih ada yang mengatakan demikian, padahal Thole sudah cukup langsing dibanding beberapa bulan lalu.

Biasanya sambungan dari ujaran di atas adalah ujaran lain semisal “nyusunya banyak ya?”, “makannya gampang ya?”, “makannya banyak ya?”. Kemudian diikuti dengan “apa sih rahasianya? Tipsnya?” Lah, jadi berasa tagline iklan susu yak. Hahaha.

Nah, di kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman seputar bagaimana Thole bisa endut. Sekali lagi, ini meurut pengalaman pribadi yak, bukan menurut keilmuan. Jadi sangat mungkin berbeda dengan ibu-ibu lain.

Alhamdulillah, Thole lahir dengan BB yang menurut saya cukup besar untuk jaman sekarang yaitu 3,58 kg. Ini menjadi modal awal. Saat di rumah sakit pun saya lihat bayi-bayi lain tak sebesar Thole.

Pertambahan berat badan sangat pesat pada Thole terjadi di tiga bulan pertama. Di usia satu bulan beratnya telah bertambah menjadi 4,8 kg, kemudian bulan kedua enam kg, dan bulan ketiga sudah mencapai delapan kg. Ketika itu memang sih Thole keliatan guede banget dibanding anak-anak seusianya. Dokter pun agak heran dan sempat mengira saya memberi sufor. Padahal ngga sama sekali.

Apa yang saya berikan di tiga bulan pertama? ASI, dan hanya ASI. Sehari setelah persalinan, ASI saya langsung keluar, saya pun langsung menyusui agar Thole bisa mendapat kolostrum yang penuh manfaat. Di bulan-bulan awal, Thole menyusu sangat sering, sekitar dua jam sekali. Bahkan kadang baru sejam sudah menyusu lagi. Nah, di tiga bulan pertama ini, saya tinggal bersama mertua yang sangat baik. Alhamdulillah. Sehingga pola makan saya teratur, tiga kali sehari, selingan pun ada, buah-buahan juga, macem-macem lah ya. Asupan gizi ini juga mungkin menjadi faktor ASI yang dihasilkan banyak dan nutrisinya terjaga. (halah!)

Memasuki usia empat bulan, Thole dan saya kembali ke Batam. Disinilah perlambatan penambahan berat badan mulai terjadi. Pola menyusu masih sering, walaupun tidak sesering di dua bulan pertama. Sampai usia enam bulan, ketika memulai MP ASI, berat Thole baru sekitar sembilan kg. Hanya nambah sekilo selama tiga bulan. Meski demikian, menurut grafik BB/U CDC, ini sudah hampir menyentuh 90 persentil.

Kemudian beratnya baru menyentuh angka sepuluh kg ketika usianya hampir sepuluh bulan. Menurut grafik, sudah di bawah 75 persentil, tapi masih di atas 50 persentil. Sampai saat usia 14 bulan, berat badan Thole masih di kisaran 11 kg. Jika dibandingkan dengan pertambahan BB di bulan-bulan awal, tentu sangat menurun. Tapi karena menurut grafik BB/U dan BB/TB masih sedikit di atas 50 persentil, saya masih agak santai.

Jadi, kalau dibilang “makannya banyak” sebenarnya tidak juga. Dibanding anak-anak seumurannya, porsi makan Thole justru sedikit. Karena emaknya suka mager (jangan ditiru yak!). Hehe.  Berat badan ini menurut saya karena modal awalnya (di tiga bulan pertama) itu gede, alias sangat pesat. Sehingga ketika sekarang dia sudah semakin aktif, badannya ngga kurus-kurus banget lah gitu.

Dalam urusan MPASI, saya bukan emak-emak yang terlalu kaku atau strict. Saya berusaha (ingat, “berusaha”) mengikuti panduan 4 bintang dari WHO yang banyak di share di medsos. Walaupun pada prakteknya tak jarang hanya tiga bintang. Frekuensi makan tiga kali sehari, dan kadang dilengkapi makan selingan, berupa biskuit atau buah, kadang tidak. Kadang juga makannya hanya dua kali. Ini biasanya kalau Thole tidur siangnya lamaaa atau lagi bepergian.

Oiya, saya juga tidak anti terhadap makanan instan kemasan yang tinggal seduh. Dalam seminggu, kira-kira satu dua kali Thole saya beri makanan instan. Karena menurut sumber yang saya baca dan dengar, makanan instan tidak dibuat dengan bahan pengawet, melainkan dengan proses pengeringan. Kandungan nutrisinya pun jelas, jadi tak ada salahnya sesekali memberikan makanan instan. Yang penting ada label halal dan BPOM.

Nah, demikianlah sekelumit cerita pengalaman saya tentang Thole. Semoga bermanfaat ya..

Anak Tidur, Enaknya Ngapain Ya?

“Wah, alhamdulillah bocah bobo siang. Hmm.. Ngapain ya sekarang?”

Pertanyaan itu dulu sering sekali menghampiri diri ini. Terutama setelah anak sudah mulai bisa merangkak, waktu tidur siang anak menjadi waktu yang amat berharga bagi emak-emak seperti saya.

Karena tentunya banyak hal yang tidak bisa dilakukan jika anak sedang terbangun. Saking bingungnya mau ngapain, kadang malah keasikan main hape (lha). Dan tanpa dirasa, tanpa diminta, terdengar suara “oeekk oeekk”. Bocah udah bangun lagi. Baru deh rasa sesal membuncah karena menyia-nyiakan waktu berharga. Hahaha… *eh, kok ketawa*

Nah, karena makin besar anaknya makin berharga waktu tidur siangnya (bagi emak-emak), saya pun belajar mengatur waktu dan kegiatan. Supaya tidak terbuang sia-sia lagi. Berikut beberapa pilihan kegiatan saya ketika anak bobo.

Ikutan tidur

Ini penting bagi emak-emak, apalagi yang waktu tidur malamnya banyak tersita dengan nyusuin anak. Dan tentunya saya tidak bisa tidur siang saat anak tidak tidur, terlalu berisiko. Risiko anak nangis, anak mainin benda berbahaya, atau anak tiba-tiba ngedubruk di perut emaknya yang lagi pules. Maknyuus.. apalagi kalau berat badan anaknya sudah mencapai seperempat berat emaknya. Duh! Tapi tidurnya ga perlu lama-lama. Kalau anak tidur dua jam, yaa saya satu jam gitu kira-kira cukuplah.

Makan

Makan dan minum dengan tenang. Hal yang mulai langka terlebih ketika anak sudah lancar jalan. Makan tepat waktu juga penting dalam menghadapi anak-anak. Karena kalau laper, biasanya lebih cepat emosi. Eh, apa itu saya doang ya?

Menulis

Inilah kegiatan yang saya berusaha sempatkan walaupun sulit. Dan seringkali dalam sekali duduk tulisan tidak langsung kelar.

Membaca

Buku-buku bagus sudah mengantri untuk dibaca, tapi tentu tidak bisa dibaca ketika anak sedang main. Kecuali sudah rela bukunya disobek-sobek.

Ibadah

Ini yang sangat penting. Para emak-emak pasti sudah tak asing lagi dengan sajadah yang diacak-acak saat sholat, dipuk-puk punggungnya saat sujud, dan ditarik-tarik mukenanya saat duduk. Walhasil sedikit banyak konsentrasi tentu terganggu. Karena itu jika anak tidur dan sudah masuk waktu sholat, maka itu adalah salah satu karunia.

Kegiatan-kegiatan inilah yang sudah mengisi daftar antrian kerjaan ketika anak tidur. Sehingga tidak ada (banyak) lagi waktu terbuang sia-sia.

Kok ga ada kegiatan “kerjaan rumah” ya dalam daftar di atas?

Well, hal itu karena saya tak ingin disibukkan dengan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dll, di siang hari. Sebisa mungkin memasak saya selesaikan di pagi hari sebelum suami berangkat. Sedangkan mencuci di malam hari setelah suami pulang kerja. Dengan pembagian ini saya bisa memanfaatkan waktu di siang hari untuk hobi dan lain-lain.

Kalau kata Ibu Septi Peni Wulandani, selama kita masih terjebak rutinitas, jangan harap ada kreativitas.

Selamat memanfaatkan waktu luang!

Begini Toh Ternyata Flu Singapur Itu

Sore selepas mandi, Thole demam. Perlahan naik dan naik suhunya. Sampai menjelang tidur badannya panas sekali. Saya tidak lantas panik, karena dia masih terlihat aktif, walaupun memang malam itu dia tidur lebih cepat. Mungkin karena lemas. Malam itu pun dia tidur dengan nyenyak seperti biasa.

Paginya, alhamdulillah demamnya sudah hilang. Thole bangun dengan ceria. Eh, tapi kok tiba-tiba ada bejendol-bejendol di bagian sikunya? Kanan dan kiri pula. Wah, kenapa lagi nih? Lagi-lagi saya masih santai, karena kelihatannya tidak gatal, dan anaknya masih anteng. Masih nafsu makan masakan saya yang ngga ada rasanya.Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Saya hanya balurkan lotion bayi sesekali, pernah juga minyak butbut dari tetangga. Tapi sepertinya tidak berpengaruh. Hari ketiga saya agak kepikiran juga, karena jendolan tersebut berubah menjadi seperti bekas luka. Akhirnya saya dan suami membawa Thole ke dokter untuk mengetahui penyakit apa ini. Khawatir itu cacar, walaupun unlikely siy.

Setelah memeriksa sampai ke bagian punggung, bokong, dan mulut, dokter pun menegakkan diagnosis Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang umum disebut flu singapur. Ternyata di mulut Thole juga ada dua jendolan, kata dokter. Tapi alhamdulillah hal itu tidak mengganggu aktivitas makannya, tetap lahap. Dokter tidak memberikan obat minum, karena penyakit ini disebabkan virus, dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 3 sampai 7 hari. Dokter hanya menyarankan agar banyak makan dan banyak minum.

“Menular ngga, Dok?” tanya suami.

“Sangat, Pak, sangat menular.”

Wew, mana dari kemarin Thole tetap main seperti biasa. Jadi khawatir teman-temannya tertular.

“Tapi tergantung imunitas tiap orang juga. Kalau lagi fit ya bisa ga tertular,” tambah dokter.

Benar saja, keesokannya jendolan-jendolan tersebut kempes sendiri, berganti menjadi seperti bekas luka. Dan beberapa hari kemudian hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah. Sayangnya ada satu teman Thole yang kebetulan main, of all day, dan akhirnya ketularan 🙁

Tapi anak tetangga yang beberapa kali main bareng malah tidak tertular.

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR Ahmad)

HFMD ini, menurut situs Baby Center, adalah penyakit yang umum terjadi pada anak balita. Jadi tidak perlu panik. Namun tingkat keparahan bisa berbeda-beda. Misalnya Thole, di mulut tidak banyak sariawan, jadi bisa tetap makan dan tidak rewel. Sedangkan temannya yang tertular rupanya banyak sariawan sehingga rewel dan ngga bisa makan minum.

Intinya jangan panik dulu ya buibu.. 🙂

Tentang Ibu Mertua

Ibu mertua oh ibu mertua…

Terlalu banyak kisah tentang mertua yang saya dengar, dan kebanyakan adalah kisah tidak menyenangkan. Ada ibu mertua yang pelit, ada yang sering merecoki, ada yang sering melarang-larang, dan banyak lagi. Awalnya saya biasa saja mendengar kisah-kisah tersebut. Namun kelamaan, saya jadi tergugah untuk menulis tentang ibu mertua saya. Karena ibu mertua saya itu, masyaAllah, baiik banget!

Alhamdulillah saya mempunyai seorang ibu mertua yang berhati baik, sikap dan tutur katanya pun lemah lembut. Beliau memperlakukan saya layaknya anak sendiri. Ketika saya mengabarkan akan melahirkan, padahal saya baru pembukaan dua, beliau langsung datang ke rumah sakit dengan membawa tas baju saya. Bahkan bapak mertua saya langsung izin dari kantor, waktu itu jam dua, dan datang ke rumah sakit juga. Duh, jadi ngga enak banget saya, padahal lahirannya ternyata baru jam 10 malam.

Setelah lahiran, saya tinggal di rumah mertua di Jakarta, sementara suami di Batam. Agak sedih juga karena LDM-an, tapi lagi-lagi alhamdulillah, ibu mertua saya sangat baik. Beliau yang setiap hari memandikan anak saya, beliau juga yang mencucikan baju anak saya. Ini terus beliau lakukan selama tiga bulan saya di sana. Bukan saya yang minta, lho. Hehe.

Beliau juga sangat tidak pelit. Setiap kali belanja bulanan, beliau tak lupa membelikan popok, dan macam-macam cemilan untuk saya yang bawaannya laper selalu. Maklum lah, busui ya kan.

Tak hanya itu, beliau juga sering memberikan barang-barang pada saya. Mulai dari dompet, baju, kerudung, sampai sepatu. Pernah suatu kali beliau mengajak saya dan suami ke acara keluarga besar di sebuah hotel bintang lima. Padahal saya tak bawa baju formal, dan beliau pun memberikan salah satu baju batiknya untuk saya.

Hh.. Ibu, ibu.. Maafkan menantumu ini yang banyak merepotkan. Apalagi kalau urusan dandan. Untungnya ibu mertua saya bersedia dengan sabar mendandani saya yang sama sekali tidak bisa dandan ini.

Salah satu keluhan yang biasa saya dengar tentang ibu mertua adalah suka mengatur atau ikut campur. Nah, hal ini juga saya sempat khawatir ketika awal menikah. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Mertua saya, baik bapak maupun ibu, tak pernah mengatur atau merecoki urusan rumah tangga saya dan suami. Beliau hanya sesekali bertanya, atau memberi pendapat, itu pun jika diminta. Namun beliau tak pernah memaksakan pendapatnya.

Tentu saja, tak ada ibu mertua yang sempurna. Adakalanya saya kurang sreg dengan keinginan atau pendapat ibu mertua, tapi ini sangat wajar. Bahkan dengan ibu kandung saja kita tak selalu satu suara, kan? Yang terpenting adalah saling menerima, memahami, menyayangi, dan menghormati. Saya masih harus banyak belajar tentang ini.

Demikian “uneg-uneg” saya tentang mertua. Semoga mertua, dan ibu kandung saya, selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Dan semoga Allah selalu merahmati rumah tangga kita semua dan menjaga hubungan kita dengan mertua. Aamiin..

Bagi yang belum punya mertua, semoga segera mendapat mertua yang baik yaa. 🙂