Perjalanan Si Passion

Setelah dua blog post tentang Thole, rasanya tak apa jika kali ini tentang mama Thole, alias saya sendiri XD

Tepatnya kali ini adalah tentang passion. Kalau membahas tentang passion, yang langsung terpikir oleh saya adalah menulis. Yaa walaupun saat ini belum bisa konsisten meluangkan waktu untuk menulis, paling tidak inilah kegiatan yang saya sukai sejak dulu. Sejak kecil.
Well, this is how i fall in love with writing…

Sejak kecil, mungkin kelas 2 atau 3 SD, saya gemar membaca buku-buku milik kakak saya. Paling sering saya baca adalah Goosebumps dan tontonannya anime Ghost At School. Lama-kelamaan keinginan menulis itu muncul. I wanna make my own story. Maka tak heran jika di awal-awal menulis tema tulisan saya pasti cerita horor. Ala bocah SD tentunya. Hahaha..

Beranjak dewasa, sekitar SMP, bacaan mulai bergeser, tulisan pun berubah. Saya jadi lebih senang menulis cerpen bertema kehidupan sehari-hari. Kala itu saya bisa selesai menulis sebuah cerpen dalam sekali duduk. Sekarang? Boro-boro buuk, duduknya aja mesti cari waktu khusus..hehe..

Masa-masa SMP-SMA adalah yang paling produktif menulis. Pernah juga mengikuti workshop menulis yang diadakan Gagas Media kala itu. Semangat pun membara. Kemudian luntur dengan cepat ketika menginjak bangku kuliah.

Passion itu pun mati suri. Ide-ide yang muncul tak pernah tereksekusi dengan baik. Bahkan saya sempat melupakannya, merasa sudah tak bisa dan tak nikmat lagi menulis. Sampai akhirnya saya bertemu Tere Liye.

Haha.. Ngga sih, lebih tepatnya saya menonton Tere Liye secara live. Jadi ketika itu, sekolah tempat saya bekerja mengundang Tere Liye untuk sebuah acara. Saya pun ikut menonton, walaupun tidak dari awal karena saya bukan fansnya juga. Namun ada kata-katanya yang sangat mengena. Ia bilang bahwa semua orang bisa menulis, orang yang sudah lama tidak menulis pun, bisa menulis. Tak menunggu lama, saya langsung kembali ke kamar dan mulai menulis. 

Saya mulai mencari kegiatan yang berhubungan dengan tulis menulis, termasuk lomba menulis. Rupanya takdir membawa saya pada kegiatan Workshop First Reader GagasMedia. Sebuah kegiatan yang membuat saya merasa “this is where i belong”. 

Kegiatan workshop first reader itu berlangsung dalam beberapa kali pertemuan. Para peserta diminta membaca naskah novel yang baru masuk, kemudian memberikan penilaian dan mendiskusikannya dari berbagai segi. Seru banget rasanya, berkumpul dengan orang-orang sehobi, bertemu para editor. Beberapa dari naskah yang kami ulas waktu itu sekarang sudah benar-benar terbit menjadi sebuah novel. Ketika melihatnya di toko buku, saya pun teringat masa-masa indah itu. Aihhh..

Tak berselang lama, saya juga mengikuti sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Diva Press. Alhamdulillah, cerpen sederhana itu keluar sebagai juara dan ikut bertengger dalam sebuah buku antologi yang (kalau tidak salah ingat) berjudul “La Tahzan, Kunci Bahagia Itu Simpel Kok!”. Dari sini lah kemudian kepercayaan diri untuk mulai menulis kembali tumbuh, meski tak langsung subur dan berbuah. 

Sekarang, setelah menjadi seorang ibu muda, sambil bergelut dengan kesibukan mengurus suami, bocah, dan rumah, saya berusaha menjaga semangat itu dengan menulis di blog ini. 

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menemukan passion? Passion itu kalau menurut beberapa kulwap yang saya ikuti, adalah kegiatan yang kita senangi, dan tidak bosan walaupun dilakukan berkali-kali. Selain passion, istilah yang lekat dengan passion adalah bakat. Nah, kalau untuk bakat ini, Anda bisa jajal tes di www.temubakat.com. Semoga bermanfaat ya..

“People around me said that I never take medicine. Well, they are wrong. Books and writing are my medicine. And I take them, a lot.”

Hobi yang Tertinggal

Mari flashback ke masa lampau. Jauh sebelum ada Thole, sebelum menikah. Kala itu, ada sebuah hobi yang saya tekuni dengan hati senang dan badan pegal, yaitu sepedaan.

Sejak kecil saya senang sekali main sepeda. Di usia kira-kira enam atau tujuh tahun, saya telah lancar mengendarai sepeda roda dua ukuran dewasa. Saya dan teman-teman geng sekitar rumah sering main sepeda bareng, terutama sore hari. Tak jarang saya bergantian boncengan dengan teman-teman. Ah, menyenangkan sekali. Menikmati angin sore, bermain, sekaligus olahraga. Bagus untuk kesehatan, itulah yang saya sukai dari hobi ini.

Beranjak dewasa, kira-kira saat SMA, saya mulai jarang main sepeda, karena mulai merasa malu. Entah kenapa saat itu main sepeda terkesan hanya untuk anak-anak. Teman-teman saya pun tak ada lagi yang sepedaan. Saya hanya menggunakan sepeda untuk ke rumah teman, atau muter-muter saat suntuk.

Nah, titik balik terjadi ketika saya di bangku kuliah. Tren sepedaan kembali subur di kalangan anak-anak sampai dewasa. Saya pun bergabung dengan KosKas (Komunitas Sepeda Kaskus). Kegiatan sepedaan jadi makin menyenangkan karena ramai, banyak teman. Dari sana, saya mulai terbiasa bersepeda jarak jauh. Kegiatan kami biasanya di weekend. Kumpul di dekat FX, kemudian bersepeda ramai-ramai. Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi bersama KosKas diantaranya acara Palang Pintu di Kemang, funbike ke Ancol, dan makan-makan di dekat Harmoni. Yang paling berkesan adalah fun bike ke Ancol. Itu adalah rekor terjauh saya sepedaan, Bintaro – Ancol. Pulangnya nebeng mobil sampai Blok M, dan lanjut sepedaan ke rumah. Tepar seketika.

Namun waktu berjalan, meninggalkan puncak kejayaan sepedaan. Saya pun harus pindah ke Sukabumi untuk bekerja, dan sepedaan kembali ditinggalkan. Di Sukabumi tetap sepedaan, sesekali, dan hanya jarak dekat.

Sekarang, sepeda yang dulu biasa saya pakai pun telah dijual. Saya pun sudah pindah ke Batam. Tak ada lagi sepeda. Ah, jadi rindu juga. Rindu mengayuh dibanjiri peluh, menyapa angin yang berlalu, terik pun tetap dilaju. Kapan ya sepedaan lagi? 🙂