Review Buku Salihah Mom’s Diary

Salihah Mom's Diary
Salihah Mom’s Diary

Judul: Salihah Mom’s Diary

Penulis: Dewi Nur Aisyah dan MommeeID

Penerbit: Ikon

Tahun terbit: 2017

Tebal: 273 halaman

Hah? Udah selesai?

Begitulah kira-kira celetuk saya ketika selesai membaca buku Shalihah Mom’s Diary. Karena saya begitu terlarut dengan kisah para shalihah moms di dalamnya. Hehe..

Especially beberapa cerita terakhir menurut saya lebih ‘dalem’ dan pengemasannya apik.

Buku ini adalah antologi, ditulis oleh beberapa orang. Yang paling banyak adalah tulisan Kak Dewina, alias Dewi Nur Aisyah. Saya pribadi senang dengan tulisannya karena selalu memberi efek positif. Semua hal dimaknai positif, dan tetap menunjukkan bahwa ibu bukanlah malaikat, namun ibu selalu bisa belajar menjadi lebih baik.

Layaknya buku antologi, ada banyak kepala, ada banyak ide, ada banyak cara bercerita. Ada kisah yang membuat saya agak ‘keki’ juga karena nampak seperti curhat yang penuh keluhan. Tapi ada banyak kisah penuh hikmah, penyemangat, inspiratif. Kisah “Happy Cooking” misalnya, cukup membuat saya ingin coba memasak dengan lebih baik. Terasa sekali feel dan semangat penulis dalam memotivasi emak-emak untuk belajar masak.

Salihah Moms Diary
Quote

Lain cerita dengan kisah “LDR? No Problem!” yang saya bisa relate sedikit sebagai emak perantauan karena ngikut suami. Dan membuat saya cengar-cengir sendiri setelah membacanya karena ternyata penulis (dan suaminya) adalah teman seangkatan saya di kampus. Wkwk..

Buku ini juga diselingi quote seputar pengasuhan yang menambah efek ‘dalem’ bagi saya.

Salihah Moms Diary

Sebelum selesai membaca semua cerita, saya baca profil penulisnya secara acak. Eh, kok anak UI semua ni? Rupanya buku ini memang karya Kak Dewina dan Mommee.org yang merupakan wadah bagi muslimah alumni UI. Jadi pingin ikutan deh, ikut jadi sholihah mom. Hehe..

Secara fisik, buku ini cocok dengan peribahasa “don’t judge the book by its cover” karena saya kurang suka dengan font pada bagian blurb atau cover belakang buku. Untunglah dalam kasus ini saya judge the book by its writer.

Layout halaman juga menarik, padahal buku ini harganya cukup murah menurut saya, tapi layout-nya bagus. Saya senang dengan buku dengan layout bagus karena bisa menjadi hiburan juga bagi mata.

Info tambahan, buku ini saya beli di Tokopedia, sepaket dengan buku Aweinspiring Me dengan harga Rp115.000 saja.

Review Buku: Muslimah Sukses Tanpa Stres

Judul: “Muslimah Sukses Tanpa Stress”

Penulis: Dr. Erma Pawitasari

Penerbit: Gema Insani

Tahun Terbit: 2015

Harga: Rp50.000 (di Blok M Square lantai dasar, ntah kalau di toko lain)

sumber: gemainsaniblog.wordpress.com

Ketika membaca judul buku ini, dan melihat sekilas covernya, yang tercetus dalam benak saya adalah “mungkin ini semacam buku motivasi bagi muslimah”. Saya pun merasa buku ini cocok untuk adik saya yang sedang stres karena belum dapat kuliah. Adik saya juga yang pertama memilih buku ini saat kami berkunjung ke sebuah di toko buku di Blok M Square.

Pulang lah kami dengan membawa buku ini. Kemudian Adik saya membacanya duluan. Ternyata dia hanya membaca bab terakhir karena dia merasa belum menjadi istri ataupun ibu sehingga bab-bab sebelumnya tidak cocok dengan keadaan dia saat ini. Saya pun coba iseng baca satu dua halaman, kemudian halaman selanjutnya.. Halaman selanjutnya.. Tanpa terasa satu bab sudah saya baca. Continue reading “Review Buku: Muslimah Sukses Tanpa Stres”

Main-main dengan Anak di Rimba Baca

Liburan telah berakhir, tapi Thole dan mamanya masih ngetem di Jakarta karena satu dan lain hal. Daripada diem-diem aja di rumah, orang rumah pun sudah pada mulai kerja, akhirnya saya iseng mencari tempat yang bisa dikunjungi. Tentunya yang ramah anak, karena percuma jalan-jalan kalau ngga ramah anak, yang ada mamak capeek doang. Wkwk..
Setelah browsing sebentar, pilihan jatuh pada Rimba Baca. Rimba Baca adalah sebuah perpustakaan ramah anak yang terletak di Cilandak, Jakarta Selatan. Di bagian luar, perpustakaan yang berlokasi tak jauh dari RSUP Fatmawati ini memang hanya tampak seperti rumah-rumah lainnya. Namun setelah masuk tentu beda sekali. Continue reading “Main-main dengan Anak di Rimba Baca”

Anak Belum Bisa Baca? Bacakan Dulu!

“Menstimulasi Anak Senang Membaca” hal pertama yang terbesit ketika mendengar judul materi ini adalah “gimana baca, wong ngomong aja belom bisa?”. Ya, awalnya saya pesimis. Pasalnya Thole, di usia yang sudah 16 bulan, baru bisa mengucap jelas kata “mama”. Itu pun kalau lagi merengek minta sesuatu. Nah, gimana pula mau baca?

Ah, emang mamamu ini masih fakir ilmu ya Le.

Materi pun digulirkan, tantangan dilayangkan, saya coba jalankan walaupun ada keraguan. Tapi yang penting adalah konsistensi. Mulai dari hari pertama, saya mencoba serius membacakan dia buku. Saya pun bacakan dengan suara lantang, ekspresi yang lebay, dan lain-lain supaya dia tertarik. Tak hanya sekali, dalam satu hari saya bacakan buku beberapa kali.

Satu, dua, tiga, sampai akhirnya sepuluh hari saya lakukan tantangan tersebut. Hasilnya, it amazed me. Ada beberapa perubahan–yang menurut saya cukup drastis–dari respon Thole. Yang tadinya dia cuek, sekarang dia kelihatan interested bahkan excited. Kedua, Thole sudah hafal buku-bukunya. Misal saya katakan “Hewan-hewan di Hutan” dengan nada tertentu, dia akan langsung mengambil buku Hewa di Hutan. Begitupun dengan buku-buku lain. Dia sudah hafal!

Ketiga, Thole mulai baca sendiri! Oke, ini lebay, tentu saja dia belum bisa membaca. Tapi sekarang dia suka buka-buka buku sendiri terus ngoceh-ngoceh ga jelas seolah sedang membaca. Wow!

Keempat, dia juga sudah hafal ketika saya bilang, “membaca bukuuu!” dengan lantang. Dia akan langsung menuju tumpukan bukunya. Masya Allah, ternyata memang benar, anak kecil itu sudah dibekali kepintaran, tinggal bagaimana orang tua membangkitkannya saja.

Dengan demikian, materi kelima di kelas Bunda Sayang ini menjadi salah satu favorit saya, so far.

Oiya, satu lagi, sebenarnya tugasnya adalah membuat pohon literasi ya. Akan tetapi karena buku yang dibaca diulang-ulang, alhasil daunnya hanya segitu-gitu saja. Malah yang nambah lebat rantingnya. hehe..

Nah, satu hal lagi yang perlu saya ingat. Kemampuan membaca bukanlah langkah pertama, melainkan sebuah proses dalam melatih keterampilan berbahasa yang diawali dengan keterampilan mendengarkan. Jadi, membacakan buku adalah langkah awal yang memang penting. Berikut tahapan melatih keterampilan berbahasa (diambil dari materi kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch 3):

  • Keterampilan mendengarkan (listening skills)
  • Ketrampilan Berbicara (speaking skills)
  • Ketrampilan Membaca (reading skills)
  • Ketrampilan Menulis (writing skills)

Workshop Menulis: Ayo Berkarya Lagi!

Berkumpul dengan teman-teman yang sehobi memang selalu menyenangkan. Banyak ilmu yang bisa dibagikan, pengalaman yang diceritakan, dan semangat yang ditularkan. Tak terkecuali dalam workshop “Sehari Jadi Buku” yang digelar oleh Rumbel Menulis IP Batam dan Kopi Write Indonesia (KWI) minggu lalu.

Workshop Sehari Jadi Buku

Kembali bersungguh-sungguh menulis, itulah semangat yang ditiupkan dalam workshop ini. Intinya menulis, menulis, menulis. Dalam workshop ini dipaparkan juga tips mendapatkan ide menulis, dan bagaimana menulis yang sesuai PUEBI. Siapa saja sih pemateri di workshop ini? Ada tiga orang narasumber kece dari KWI yang baik hati berbagi ilmu dengan para emak IP Batam, yaitu Mba Heni, Mba Dian Ikha, dan Mba Dwi Arum.

Workshop ini bukan hanya one time event, tapi merupakan awal dari rangkaian proses untuk menelurkan buku antologi pertama dari Rumbel Menulis IP Batam. Doakan ya semoga kami para emak-emak ini bisa menghasilkan tulisan bermanfaat bagi banyak orang. Aamiinn..

Mungkin inilah jalannya, bagi impian-impian yang telah lama dicita-citakan sekaligus lama diendapkan.