Memahamkan Anak tentang Allah

Ah, berat sekali tema arisan kali ini, plus waktu yang lebih sedikit. Memahamkan anak tentang Allah? Saya sendiri saja belum paham, bagaimana bisa mengajarkan anak. Alhamdulillah Thole masih 13 bulan dan belum bertanya macam-macam. Artinya, saya masih bisa belajar dulu.

Suatu hari saya pernah mendengar pengalaman seorang ayah dalam menjelaskan pada anaknya tentang Allah.

“Nak, kamu tidak akan melihat Allah selama masih hidup di dunia ini. Jadi jika ada yang mengaku tuhan, itu pasti bohong.” Kurang lebih demikian si bapak menerangkan dan dibenarkan oleh ustad.

Dalam sebuah ceramah pula saya pernah mendengar bahwa setiap orang secara fitrahnya adalah Islam dan mengetahui Allah. Apabila seorang anak kecil masih terjaga fitrahnya, tidak terkontaminasi hal-hal negatif (seperti tontonan tidak mendidik atau musik), maka ketika ia sudah mulai bisa diajak ngobrol dan ditanya “Allah ada di mana?” anak tersebut akan refleks menunjuk ke atas.

Bagaimana saya mengenalkan Allah pada Thole? Saat ini saya sendiri baru mencoba mengakrabkan telinganya dengan bacaan alquran dan sering mengajaknya berdoa. Misalnya, “dede sakit perut ya? Yuk, mohon sama Allah, supaya Allah sembuhkan dede.” Selebihnya, saya masih perlu banyak belajar agar saya pribadi bisa benar-benar mengenal Allah.

Terima kasih Mba Ulfa yang telah memberi tema arisan kali ini.

Mengisi Tangki dengan Ngelendot

Supaya judul random ini keliatan maksudnya, marilah segera kita bahas saja.

Mengenai bahasa cinta Thole tentu saja belum benar-benar ketahuan. Tapi jika diamat-amati, bocah ini sepertinya lebih ke arah sentuhan fisik. Mengapa?

Karena Thole ini entah kenapa sering ‘ngelendot’ di paha saya atau bapaknya. Kalau sedang ngelendot, biasanya saya langsung usap-usap punggungnya.

Ngelendot ini bisa tiba-tiba. Lagi asik main sendiri atau main sama teman, mendadak ngelendot. Lagi makan, ngelendot. Sebentar siy memang, hanya paling semenit. Mungkin saat ini itulah cara memenuhi tangki cintanya dengan cepat.

Bicara tentang ngelendot. Saya teringat kakaknya teman saya, sebut saja Tomi. Suatu hari saya pernah main ke rumah teman saya itu, dan ketika masuk sholat magrib kami sholat berjamaah, termasuk dengan Tomi dan ortunya. Setelah selesai sholat dan dzikir, ada hal menarik. Si Tomi yang hanya lebih tua setahun dari saya ini tiba-tiba menghampiri ibunya dan tiduran bersandar, ngelendot, di paha ibunya.

Saat itu ibunya duduk di sebelah saya. Ibunya langsung mengelus-elus kepala Tomi dan mereka ngobrol santai.

Saya pun takjub dengan adegan ini. Karena Tomi tak malu-malu menunjukkan kedekatan dengan ibunya di depan kami, teman-teman adiknya. Ibunya pun memang orang yang lemah lembut.

Ah.. Manis sekali lah pokoknya.. Saya pun ingin kelak anak lelaki saya tak segan menunjukkan sayang dan cintanya. Mungkin diawali dengan ngelendot.

Tentang bahasa cinta ini, yuk kita baca pengalaman berbeda mama krucils yang kece.

Berburu Sate Ayam Enak di Batam

Bukan, saya bukanlah orang yang hobi wisata kuliner atau mencoba atau menilai jajanan baru. But when it comes to sate, it’s a different story.

Sate adalah makanan favorit saya. Karena itu saya cukup kecewa ketika mendapati beberapa sate di Batam yang tidak sesuai selera. Ada yang besar-besar dan enak, tapi sangat mahal. Ada yang murah, tapi kecil-kecilnya terlaluu.

Tak ingin kecewa lagi, saya pun berhenti mencari. Namun justru ketika itulah takdir membawa saya ke blog emak Khalid dan membaca review King Sate. Beberapa hari kemudian, saya mendapati diri saya telah berada di King Sate.🤣

Here it is. Sebelumnya saya juga mendengar komentar teman yang bilang sate taichan disini ga enak. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mencoba. Karena yang saya mau itu sate ayam madura-nya.

Yes, this is it.

So, how’s the taste? Believe me when i tell you, ayamnya empuukk bangeett kayak bantal (hehe). Sepertinya dimasak dengan slow cook *sok tau*. Saya sendiri lebih suka yang ayamnya agak “ngelawan”. Kemudian bumbu kacangnya lumayan enak, walaupun alus banget kacangnya.

Harga sate ayam madura satu porsi (9 tusuk plus lontong) Rp23.000. Ada juga opsi setengah porsi (6 tusuk plus lontong) Rp16.000. Fyi, lontongnya juga gede-gede.

Sate Boffet

Sate kedua yang akan saya bahas disini adalah sate ayam Boffet. Letaknya di ruko Tiban Impian. Nah, harga sate disini jauh lebih murah. Hanya Rp13.000 sudah plus lontong. Tapi jelas, ukurannya hanya setengah (atau bahkan sepertiga?) dibanding King Sate. Daaan, kacang di bumbunya itu masih kasar, jadi serasa makan rujak. It’s not a bad thing though. Hehe.

Sate Madura (depan Taman Sari)

Nah, yang satu ini cocok dengan peribahasa “don’t judge the sate, by it’s gerobak”. Walaupun tempatnya bukan di ruko besar, ternyata justru sate inilah yang saya cari! Rasanya paling mendekati selera saya! Ukurannya pun sedang, dengan tingkat kematangan yang pas! Tidak keras, tidak terlalu empuk. Harga bersahabat, Rp14.000 per porsi, 10 tusuk plus lontong. Lha, macem promosi aja ya 🤣

Lokasinya di depan pintu masuk perumahan Taman Sari Tiban, dekat martabak Yapora.

Dan pencarian pun berujung indah. Alhamdulillah.

Bagi Anda penggemar sate madura, mungkin tiga tempat ini bisa dipertimbangkan. 🙂

Dear, Thole..

Wah, arisan kali ini nama Mba Juli yang keluar, dan tema yang dipilih adalah “ungkapan cinta untuk anak”. Aiihh.. How sweet..

Kalau dipikir-pikir, mungkin bahasa cinta saya bukanlah verbal, namun lebih pada pelayanan, atau hadiah, atau yang lainnya. Mungkin itu juga sebabnya saya yang berbadan kurus dengan IMT kurang dari 20 ini masih kuat menggendong-gendong Thole. Walaupun saya jarang mengatakan “i love you” padanya.

Saya juga terkadang heran, betapa manusia kecil ini bisa mengubah seketika emosi saya, dari sedih menjadi senang, dari marah menjadi sumringah. Atau sebaliknya (ha!). Namun saya tetap sering lupa mengatakan “i love you” di telinganya.

Tak terhitung berapa banyak senyum yang telah ia ukirkan di hari-hari saya. Sehingga tiap hari begitu berwarna. Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mengungkapkan cinta..

Tapi karena tema kali ini adalah ungkapan cinta untuk anak, so, i’ll try. Here we go…

Dear Thole,

I love you.💗

Komunikasi yang Tak Sekedar Ngobrol

Kalau dibilang “jalin komunikasi” atau “jaga komunikasi dengan pasangan” maka yang terpikir oleh saya adalah ngobrol. Sering-sering ngobrol. Namun ternyata, komunikasi harusnya tak sekedar ngobrol.

Komunikasi Produktif adalah materi pertama di kelas Bunda Sayang IIP. Membaca materi tentunya mudah, memahaminya agak lebih menantang, dan mempraktikkannya menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih bagi saya yang seringkali mengikutkan emosi ketika ngobrol.

Selama sepuluh hari mencoba menerapkan teori Komunikasi Produktif, saya menyadari betapa emosi memang sebaiknya tak diumbar. Menyampaikan pesan secara baik-baik dan efektif justru lebih bisa menjamin hasil yang positif.

Selain itu, saya pun mulai tercerahkan mengenai “bahasa cinta”. Jangan-jangan selama ini perbedaan bahasa ini lah yang menjadi sebab seringnya emosi terpancing. Kini saya akan berusaha mengamati untuk mencari tahu bahasa cinta suami dan saya sendiri. Karena komunikasi tak hanya sekedar ngobrol.