Komunikasi yang Tak Sekedar Ngobrol

Kalau dibilang “jalin komunikasi” atau “jaga komunikasi dengan pasangan” maka yang terpikir oleh saya adalah ngobrol. Sering-sering ngobrol. Namun ternyata, komunikasi harusnya tak sekedar ngobrol.

Komunikasi Produktif adalah materi pertama di kelas Bunda Sayang IIP. Membaca materi tentunya mudah, memahaminya agak lebih menantang, dan mempraktikkannya menjadi sebuah tantangan besar. Terlebih bagi saya yang seringkali mengikutkan emosi ketika ngobrol.

Selama sepuluh hari mencoba menerapkan teori Komunikasi Produktif, saya menyadari betapa emosi memang sebaiknya tak diumbar. Menyampaikan pesan secara baik-baik dan efektif justru lebih bisa menjamin hasil yang positif.

Selain itu, saya pun mulai tercerahkan mengenai “bahasa cinta”. Jangan-jangan selama ini perbedaan bahasa ini lah yang menjadi sebab seringnya emosi terpancing. Kini saya akan berusaha mengamati untuk mencari tahu bahasa cinta suami dan saya sendiri. Karena komunikasi tak hanya sekedar ngobrol.

Meluangkan Waktu Demi Waktu Luang

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Mendengar kata “waktu luang” membuat pikiran saya berkelana ke masa lalu. Ketika setiap hari adalah waktu luang. Saking luangnya, sampai bingung mau ngapain lagi. Seolah sudah melakukan semuanya, padahal belum melakukan apa-apa. Hahaha..

Menjadi seorang emak-emak tak berarti kehilangan waktu luang atau me time. Hanya saja, ini menjadi sesuatu yang tricky. Waktu luang atau me time tak harus berjam-jam, tak harus pergi ke luar, nonton bioskop, atau nyalon. Bagi saya pribadi, membaca atau menulis ditemani secangkir teh hangat pun bisa menjadi me time yang sangat berharga.

Lalu bagaimana mendapatkan kesempatan berharga ini? Pertama, mengatur waktu. Ini hal penting yang saya juga masih amatir. Tapi benar-benar terasa bedanya jika semua kegiatan sudah teratur, maka akan ada waktu luang.

Kedua, percayalah, pekerjaan rumah tak ada habisnya. Jadi jangan selalu mendahulukan pekerjaan domestik. Istirahatlah, luangkanlah waktu untuk “bernapas”.

Ketiga, waktu luang itu diciptakan. Misalnya dengan bangun lebih pagi, atau Htidur lebih malam demi me time.

Dan yang terpenting adalah jangan terlena dengan waktu luang. LManfaatkanlah waktu luang sebaik-baiknya agar kita tidak menjadi orang yang tertipu.

Nah, kalau ada waktu luang, yuk intip blognya mba Ovie..insyaallah bermanfaat 😁

“Bunda, Jangan Marah”

Menceritakan sebuah pengalaman yang bisa menginspirasi membuat saya kembali membuka lembaran yang telah dilalui. Semoga salah satu pengalaman saya ini bisa memberi inspirasi para emak-emak.

Kali ini berhubungan dengan pengalaman saya ketika menjadi pembin asrama di sebuah sekolah asrama. Kala itu, ada seorang murid kelas 8, sebut saja Lala. Lala ini ceritanya sakit mata, dan menurut aturan sekolah, kalau anak sakit mata maka sebaiknya dipulangkan dulu karena khawatir menular. Akan tetapi Lala menolak, dengan keras.

“Saya ngga mau pulang, Bu! Ini gak apa-apa.”

“Tapi kalo temen-temen ketularan, gimana?”

“Pokoknya saya ga mau pulang!”

Tanpa persetujuannya, saya pun mengabari ibunya dan meminta agar Lala dijemput. Kira-kira dua jam kemudian sang ibu datang, Lala kaget. Ia masih bersikukuh menolak dan tetap diam di kamarnya. Saya pun meminta ibunya Lala untuk menunggu di mobil sembari saya membujuk Lala.

Di atas kasurnya, Lala masih duduk memeluk kakinya dan menangis. Ia benar-benar tak ingin pulang. Setelah bertanya-tanya, ternyata yang membuatnya enggan pulang adalah sikap kasar ibunya.

Menurut cerita Lala, ibunya seringkali memarahi bahkan bertindak kasar hanya karena kesalahan kecil. Hal itu membuat Lala takut untuk pulang. Saya pun kasihan melihatnya. Tapi saya tetap harus membujuknya untuk pulang.

Satu per satu ceritanya saya dengarkan, barulah saya berusaha menasihatinya. Bahwa ibunya tentu tak berkeinginan berbuat demikian. Bahwa memarahi anak juga merupakan hal yang menyakitkan bagi seorang ibu. Dan walaupun sulit, saya meminta Lala untuk memaafkan ibunya, dan berusaha memahami. Serta menghindari hal-hal yang bisa membuat ibunya marah.

Tak kurang setengah jam saya habiskan membujuknya, sampai akhirnya berhasil. Lala pun tak lagi menolak untuk dipulangkan sementara. Perasaan lega muncul, namun juga miris.

Terlalu banyak pelajaran yang saya dapat hari itu. Tentang bagaimana perasaan seorang anak dapat terlukai, hingga membuat lingkungan di luar rumahnya lebih ia sukai. Tentang cara bersabar saat menghadapi anak-anak, dan banyak lagi.

Perlu dicatat juga bahwasannya ibunya Lala juga sangat baik pada Lala. Ia memilihkan sekolah yang menurutnya terbaik, memberikan berbagai fasilitas, mengajak jalan-jalan, dll. Namun rupanya semua itu tak lantas menghapus memori buruk dalam diri Lala.

Now that i have a son myself, hope i can protect my son from my anger.

Yap, semoga secuplik pengalaman ini bisa bermanfaat bagi kita.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa juga kunjungi blog teman saya, mba Moniq, yaa untuk tulisan inspiratif lainnya.. 😉

Wanita Hebat

Mereka, para wanita, ibu, yang kau lihat hebat, cerdas, kuat, ceria, bahagia, bukanlah orang-orang yang tak pernah mendapat cobaan.

Mereka juga telah mengalami berbagai kesulitan, kesedihan, dan mereka melalui itu semua. Dengan kesabaran, dengan kekuatan, dengan keimanan, mungkin juga dengan air mata. Dan karena itulah, senyuman, kekuatan, kehebatan, dan kebahagiaan itu ada di wajah-wajah mereka. 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

Ketika Emak-emak Plus Bocah Belajar NgeBlog

Belajar ngeblog? Sudah biasa. Belajar ngeblog bareng emak-emak plus bocah-bocah? Ini baru beda! Paling tidak, ini adalah pengalaman berbeda untuk saya.

Hari Kamis lalu adalah kali kedua kopdar Rumbel Menulis IIP Batam. Walaupun sempat terancam tidak bisa hadir, alhamdulillah akhirnya bisa juga.

Kopdar kedua ini khusus belajar membuat blog dengan bimbingan dari bu ketua, Mbak Lubnah.

Dan jangan bayangkan suasana belajar yang tenang. Dengan banyaknya bocah-bocah yg ada, termasuk Thole, tentu saja suasana jadi pecahh bgt. Tapi semangat para emak-emak ini juga ga kalah sama bocah-bocahnya, lho! Jadi emaknya tetap bisa dapat ilmu, anaknya happy main-main.

Mengikuti kegiatan semacam ini membuat saya semakin tersadar, bahwa menjadi emak-emak bukanlah penghalang untuk mencari ilmu, dan berkomunitas. It’s just a matter of will. And we just need to find the right place, the right community. For me, this might be it.. 😊