Anak Tidur, Enaknya Ngapain Ya?

“Wah, alhamdulillah bocah bobo siang. Hmm.. Ngapain ya sekarang?”

Pertanyaan itu dulu sering sekali menghampiri diri ini. Terutama setelah anak sudah mulai bisa merangkak, waktu tidur siang anak menjadi waktu yang amat berharga bagi emak-emak seperti saya.

Karena tentunya banyak hal yang tidak bisa dilakukan jika anak sedang terbangun. Saking bingungnya mau ngapain, kadang malah keasikan main hape (lha). Dan tanpa dirasa, tanpa diminta, terdengar suara “oeekk oeekk”. Bocah udah bangun lagi. Baru deh rasa sesal membuncah karena menyia-nyiakan waktu berharga. Hahaha… *eh, kok ketawa*

Nah, karena makin besar anaknya makin berharga waktu tidur siangnya (bagi emak-emak), saya pun belajar mengatur waktu dan kegiatan. Supaya tidak terbuang sia-sia lagi. Berikut beberapa pilihan kegiatan saya ketika anak bobo.

Ikutan tidur

Ini penting bagi emak-emak, apalagi yang waktu tidur malamnya banyak tersita dengan nyusuin anak. Dan tentunya saya tidak bisa tidur siang saat anak tidak tidur, terlalu berisiko. Risiko anak nangis, anak mainin benda berbahaya, atau anak tiba-tiba ngedubruk di perut emaknya yang lagi pules. Maknyuus.. apalagi kalau berat badan anaknya sudah mencapai seperempat berat emaknya. Duh! Tapi tidurnya ga perlu lama-lama. Kalau anak tidur dua jam, yaa saya satu jam gitu kira-kira cukuplah.

Makan

Makan dan minum dengan tenang. Hal yang mulai langka terlebih ketika anak sudah lancar jalan. Makan tepat waktu juga penting dalam menghadapi anak-anak. Karena kalau laper, biasanya lebih cepat emosi. Eh, apa itu saya doang ya?

Menulis

Inilah kegiatan yang saya berusaha sempatkan walaupun sulit. Dan seringkali dalam sekali duduk tulisan tidak langsung kelar.

Membaca

Buku-buku bagus sudah mengantri untuk dibaca, tapi tentu tidak bisa dibaca ketika anak sedang main. Kecuali sudah rela bukunya disobek-sobek.

Ibadah

Ini yang sangat penting. Para emak-emak pasti sudah tak asing lagi dengan sajadah yang diacak-acak saat sholat, dipuk-puk punggungnya saat sujud, dan ditarik-tarik mukenanya saat duduk. Walhasil sedikit banyak konsentrasi tentu terganggu. Karena itu jika anak tidur dan sudah masuk waktu sholat, maka itu adalah salah satu karunia.

Kegiatan-kegiatan inilah yang sudah mengisi daftar antrian kerjaan ketika anak tidur. Sehingga tidak ada (banyak) lagi waktu terbuang sia-sia.

Kok ga ada kegiatan “kerjaan rumah” ya dalam daftar di atas?

Well, hal itu karena saya tak ingin disibukkan dengan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dll, di siang hari. Sebisa mungkin memasak saya selesaikan di pagi hari sebelum suami berangkat. Sedangkan mencuci di malam hari setelah suami pulang kerja. Dengan pembagian ini saya bisa memanfaatkan waktu di siang hari untuk hobi dan lain-lain.

Kalau kata Ibu Septi Peni Wulandani, selama kita masih terjebak rutinitas, jangan harap ada kreativitas.

Selamat memanfaatkan waktu luang!

Workshop Menulis: Ayo Berkarya Lagi!

Berkumpul dengan teman-teman yang sehobi memang selalu menyenangkan. Banyak ilmu yang bisa dibagikan, pengalaman yang diceritakan, dan semangat yang ditularkan. Tak terkecuali dalam workshop “Sehari Jadi Buku” yang digelar oleh Rumbel Menulis IP Batam dan Kopi Write Indonesia (KWI) minggu lalu.

Workshop Sehari Jadi Buku

Kembali bersungguh-sungguh menulis, itulah semangat yang ditiupkan dalam workshop ini. Intinya menulis, menulis, menulis. Dalam workshop ini dipaparkan juga tips mendapatkan ide menulis, dan bagaimana menulis yang sesuai PUEBI. Siapa saja sih pemateri di workshop ini? Ada tiga orang narasumber kece dari KWI yang baik hati berbagi ilmu dengan para emak IP Batam, yaitu Mba Heni, Mba Dian Ikha, dan Mba Dwi Arum.

Workshop ini bukan hanya one time event, tapi merupakan awal dari rangkaian proses untuk menelurkan buku antologi pertama dari Rumbel Menulis IP Batam. Doakan ya semoga kami para emak-emak ini bisa menghasilkan tulisan bermanfaat bagi banyak orang. Aamiinn..

Mungkin inilah jalannya, bagi impian-impian yang telah lama dicita-citakan sekaligus lama diendapkan.

 

Lepas Rindu Bubur Barito dengan Bubur Dokar

Sarapan bubur adalah salah satu favorit sarapan saya dan suami di akhir pekan. Di Batam ini, ada beberapa bubur yang menjadi pilihan saya dan suami. Pertama adalah bubur Goodway yang terletak persis di sebelah hotel Goodway. Buburnya enak walaupun lama-lama saya merasa porsinya kurang.hehe..

Kedua, bubur Mang Doel yang terletak di Tiban BTN. Enak, relatif murah, dan banyak. Bahkan kadang sampai kekenyangan. Wew..

Nah, baru-baru ini ada satu bubur lagi yang langsung jadi favorit saya dan suami yaitu bubur Dokar. Bubur ayam Dokar ini terletak di komplek ruko Cipta Land, jalan masuknya dari depan sekolah Ulil Albab. Kenapa bubur Dokar menjadi favorit? Alasan sederhananya adalah karena bubur ini rasanya mirip sekali dengan bubur Barito di Jakarta.

Yap, bubur Barito sudah terkenal di Jakarta. Sayangnya lokasinya agak jauh dari rumah sehingga kami jarang kesana. Selain itu harganya pun sudah melangit. Untungnya, bubur Dokar memiliki rasa yang sangat mirip. Bubur di sini tidak menggunakan kaldu, tapi buburnya saja sudah gurih. Sepertinya direbus menggunakan kaldu ayamnya sehingga sudah enak. Bedanya dengan bubur Barito yaitu tidak adanya cheese stick. Ya, bubur Barito menggunakan cheese stick (atau bawang ya?) sebagai pengganti kerupuk. sedang kan bubur Dokar masih menggunakan kerupuk. Tapi ini bukan perbedaan besar untuk saya.

Harga seporsi bubur ayam di sini awalnya Rp12000 ketika saya pertama mencoba, kira-kira tiga bulan lalu. Namun sayang sekali, baru-baru ini harganya naik jadi Rp15.000 :((

My husband still love it though.

Selain bubur ayam, ada banyak menu yang disediakan di Dokar ini, diantaranya i fu mie, nasi goreng, kwetiaw, dan lain-lain.harga pun bervariasi mulai dari Rp20.000. Kalau Anda mencoba sarapan di sini, sempatkan menengok ke laut yang ada tak jauh dari Dokar. Walaupun tak ada pasir pantainya, tapi lumayan untuk m

emanjakan mata, melepas stress sedikit. 🙂

Begini Toh Ternyata Flu Singapur Itu

Sore selepas mandi, Thole demam. Perlahan naik dan naik suhunya. Sampai menjelang tidur badannya panas sekali. Saya tidak lantas panik, karena dia masih terlihat aktif, walaupun memang malam itu dia tidur lebih cepat. Mungkin karena lemas. Malam itu pun dia tidur dengan nyenyak seperti biasa.

Paginya, alhamdulillah demamnya sudah hilang. Thole bangun dengan ceria. Eh, tapi kok tiba-tiba ada bejendol-bejendol di bagian sikunya? Kanan dan kiri pula. Wah, kenapa lagi nih? Lagi-lagi saya masih santai, karena kelihatannya tidak gatal, dan anaknya masih anteng. Masih nafsu makan masakan saya yang ngga ada rasanya.Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Saya hanya balurkan lotion bayi sesekali, pernah juga minyak butbut dari tetangga. Tapi sepertinya tidak berpengaruh. Hari ketiga saya agak kepikiran juga, karena jendolan tersebut berubah menjadi seperti bekas luka. Akhirnya saya dan suami membawa Thole ke dokter untuk mengetahui penyakit apa ini. Khawatir itu cacar, walaupun unlikely siy.

Setelah memeriksa sampai ke bagian punggung, bokong, dan mulut, dokter pun menegakkan diagnosis Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang umum disebut flu singapur. Ternyata di mulut Thole juga ada dua jendolan, kata dokter. Tapi alhamdulillah hal itu tidak mengganggu aktivitas makannya, tetap lahap. Dokter tidak memberikan obat minum, karena penyakit ini disebabkan virus, dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 3 sampai 7 hari. Dokter hanya menyarankan agar banyak makan dan banyak minum.

“Menular ngga, Dok?” tanya suami.

“Sangat, Pak, sangat menular.”

Wew, mana dari kemarin Thole tetap main seperti biasa. Jadi khawatir teman-temannya tertular.

“Tapi tergantung imunitas tiap orang juga. Kalau lagi fit ya bisa ga tertular,” tambah dokter.

Benar saja, keesokannya jendolan-jendolan tersebut kempes sendiri, berganti menjadi seperti bekas luka. Dan beberapa hari kemudian hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah. Sayangnya ada satu teman Thole yang kebetulan main, of all day, dan akhirnya ketularan 🙁

Tapi anak tetangga yang beberapa kali main bareng malah tidak tertular.

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR Ahmad)

HFMD ini, menurut situs Baby Center, adalah penyakit yang umum terjadi pada anak balita. Jadi tidak perlu panik. Namun tingkat keparahan bisa berbeda-beda. Misalnya Thole, di mulut tidak banyak sariawan, jadi bisa tetap makan dan tidak rewel. Sedangkan temannya yang tertular rupanya banyak sariawan sehingga rewel dan ngga bisa makan minum.

Intinya jangan panik dulu ya buibu.. 🙂

Tentang Ibu Mertua

Ibu mertua oh ibu mertua…

Terlalu banyak kisah tentang mertua yang saya dengar, dan kebanyakan adalah kisah tidak menyenangkan. Ada ibu mertua yang pelit, ada yang sering merecoki, ada yang sering melarang-larang, dan banyak lagi. Awalnya saya biasa saja mendengar kisah-kisah tersebut. Namun kelamaan, saya jadi tergugah untuk menulis tentang ibu mertua saya. Karena ibu mertua saya itu, masyaAllah, baiik banget!

Alhamdulillah saya mempunyai seorang ibu mertua yang berhati baik, sikap dan tutur katanya pun lemah lembut. Beliau memperlakukan saya layaknya anak sendiri. Ketika saya mengabarkan akan melahirkan, padahal saya baru pembukaan dua, beliau langsung datang ke rumah sakit dengan membawa tas baju saya. Bahkan bapak mertua saya langsung izin dari kantor, waktu itu jam dua, dan datang ke rumah sakit juga. Duh, jadi ngga enak banget saya, padahal lahirannya ternyata baru jam 10 malam.

Setelah lahiran, saya tinggal di rumah mertua di Jakarta, sementara suami di Batam. Agak sedih juga karena LDM-an, tapi lagi-lagi alhamdulillah, ibu mertua saya sangat baik. Beliau yang setiap hari memandikan anak saya, beliau juga yang mencucikan baju anak saya. Ini terus beliau lakukan selama tiga bulan saya di sana. Bukan saya yang minta, lho. Hehe.

Beliau juga sangat tidak pelit. Setiap kali belanja bulanan, beliau tak lupa membelikan popok, dan macam-macam cemilan untuk saya yang bawaannya laper selalu. Maklum lah, busui ya kan.

Tak hanya itu, beliau juga sering memberikan barang-barang pada saya. Mulai dari dompet, baju, kerudung, sampai sepatu. Pernah suatu kali beliau mengajak saya dan suami ke acara keluarga besar di sebuah hotel bintang lima. Padahal saya tak bawa baju formal, dan beliau pun memberikan salah satu baju batiknya untuk saya.

Hh.. Ibu, ibu.. Maafkan menantumu ini yang banyak merepotkan. Apalagi kalau urusan dandan. Untungnya ibu mertua saya bersedia dengan sabar mendandani saya yang sama sekali tidak bisa dandan ini.

Salah satu keluhan yang biasa saya dengar tentang ibu mertua adalah suka mengatur atau ikut campur. Nah, hal ini juga saya sempat khawatir ketika awal menikah. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Mertua saya, baik bapak maupun ibu, tak pernah mengatur atau merecoki urusan rumah tangga saya dan suami. Beliau hanya sesekali bertanya, atau memberi pendapat, itu pun jika diminta. Namun beliau tak pernah memaksakan pendapatnya.

Tentu saja, tak ada ibu mertua yang sempurna. Adakalanya saya kurang sreg dengan keinginan atau pendapat ibu mertua, tapi ini sangat wajar. Bahkan dengan ibu kandung saja kita tak selalu satu suara, kan? Yang terpenting adalah saling menerima, memahami, menyayangi, dan menghormati. Saya masih harus banyak belajar tentang ini.

Demikian “uneg-uneg” saya tentang mertua. Semoga mertua, dan ibu kandung saya, selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Dan semoga Allah selalu merahmati rumah tangga kita semua dan menjaga hubungan kita dengan mertua. Aamiin..

Bagi yang belum punya mertua, semoga segera mendapat mertua yang baik yaa. 🙂