Mengisi Tangki dengan Ngelendot

Supaya judul random ini keliatan maksudnya, marilah segera kita bahas saja.

Mengenai bahasa cinta Thole tentu saja belum benar-benar ketahuan. Tapi jika diamat-amati, bocah ini sepertinya lebih ke arah sentuhan fisik. Mengapa?

Karena Thole ini entah kenapa sering ‘ngelendot’ di paha saya atau bapaknya. Kalau sedang ngelendot, biasanya saya langsung usap-usap punggungnya.

Ngelendot ini bisa tiba-tiba. Lagi asik main sendiri atau main sama teman, mendadak ngelendot. Lagi makan, ngelendot. Sebentar siy memang, hanya paling semenit. Mungkin saat ini itulah cara memenuhi tangki cintanya dengan cepat.

Bicara tentang ngelendot. Saya teringat kakaknya teman saya, sebut saja Tomi. Suatu hari saya pernah main ke rumah teman saya itu, dan ketika masuk sholat magrib kami sholat berjamaah, termasuk dengan Tomi dan ortunya. Setelah selesai sholat dan dzikir, ada hal menarik. Si Tomi yang hanya lebih tua setahun dari saya ini tiba-tiba menghampiri ibunya dan tiduran bersandar, ngelendot, di paha ibunya.

Saat itu ibunya duduk di sebelah saya. Ibunya langsung mengelus-elus kepala Tomi dan mereka ngobrol santai.

Saya pun takjub dengan adegan ini. Karena Tomi tak malu-malu menunjukkan kedekatan dengan ibunya di depan kami, teman-teman adiknya. Ibunya pun memang orang yang lemah lembut.

Ah.. Manis sekali lah pokoknya.. Saya pun ingin kelak anak lelaki saya tak segan menunjukkan sayang dan cintanya. Mungkin diawali dengan ngelendot.

Tentang bahasa cinta ini, yuk kita baca pengalaman berbeda mama krucils yang kece.

Wanita Hebat

Mereka, para wanita, ibu, yang kau lihat hebat, cerdas, kuat, ceria, bahagia, bukanlah orang-orang yang tak pernah mendapat cobaan.

Mereka juga telah mengalami berbagai kesulitan, kesedihan, dan mereka melalui itu semua. Dengan kesabaran, dengan kekuatan, dengan keimanan, mungkin juga dengan air mata. Dan karena itulah, senyuman, kekuatan, kehebatan, dan kebahagiaan itu ada di wajah-wajah mereka. 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)

Ini Lho Ruang Menyusui yang Keren di Mall Jakarta

Terbiasa dengan mall mall di Batam yang tidak menyediakan ruang menyusui, saya pun tak ingin melewatkan kesempatan menjajal ruang menyusui di beberapa mall Jakarta yang saya kunjungi. Berikut diantaranya:

  1. BXC (Bintaro XChange)

Pertama kali membawa Thole ke mall adalah ke mall BXC ini. Kenapa? Karena relatif dekat, ada ruang menyusui, dan, yang tak kalah penting, ada jasa pinjam stroller! 🤣

Ruang menyusui yang saya coba di BXC ini tidak luas. Fasilitasnya hanya satu sofa kapasitas maks 3 orang, sebuah changing table yang agak terlalu tinggi untuk saya, dan wastafel.

Saya pribadi merasa kurang nyaman di ruang menyusui BXC ini.


  1. Gandaria City

Nah, salah satu mall yang juga digadang-gadang memiliki ruang menyusui yang oke adalah Gandaria City. Saya pun semangat 45 menuju salah satu ruang menyusui, walaupun Thole blm laper. Biar ngga minta nyusu pas saya lagi makan 🙈.

Setelah membuka pintu ruang menyusui, kesan pertama saya adalah sempit. Saya kira luas. Di dalam ruangan ada tiga bilik kecil dengan fasilitas sebuah sofa yang cukup nyaman. Di luar bilik, tersedia changing table dan wastafel. Ruangan yang tidak luas ini makin terasa sempit ketika banyak yang menggunakan. Saat keluar dari bilik, ada sekitar 3 atau 4 ibu-ibu dan anaknya. Saya pun tak lama-lama menyusui Thole karena takut membuat yang lain mengantri lama.


  1. Pondok Indah Mall

Tepatnya di PIM 1, di dekat resto Bakmi GM. Nahhh, inilah, buibu, makemak, readers, semuanya, ruang menyusui yang saangaat kece! Apakah saya lebay? Silakan buibu nilai sendiri.

Ruang menyusui di PIM diberi nama Family Room, dan sesuai namanya, tak hanya ibu-ibu dan anaknya, bapak-bapak pun boleh masuk ke ruangan ini. Jadi, Family Room ini adalah sebuah ruangan luas yang di dalamnya ada sekitar 7 sofa, tiga changing tables, dua wastafel yang terletak diantara changing table, sebuah toilet khusus anak, dan enam bilik menyusui. Nah, oke banget kan? Tidak hanya itu, bilik menyusuinya pun cukup luas, kira-kira dua kalinya bilik di Gancy. Di dalam bilik ada sebuah sofa, meja kecil, dan colokan listrik bagi yang ingin pumping dg pompa elektrik. Dindignya dihiasi wallpaper bertema anak-anak. Tidak hanya saya, Thole pun ikut terkesima dengan ruangan ini. Matanya ngeliatin wallpaper terus..hahaha..

Setelah menyusui, saya sekaian saja ganti popok Thole yg sudah penuh, mumpung ruangannya nyaman dan tidak rame. Changing table di sini bentuknya permanen, jd tidak akan kegeser-geser. Ketinggiannya pas, ada rak, dan ada tempat sampah khusus popok di bagian bawah. Oiya, sofa-sofa di ruangan ini bisa untuk duduk para bapak-bapak. Jadi klo emaknya repot ganti popok dan perlu ini itu bisa minta tolong bapaknya (saya banget nih!).

Gimana? Oke kan?

Review Buku Orangtua Cermat Anak Sehat

Nyesel! Kenapa Ngga dari Dulu Beli Buku Ini 🙁

Sebenarnya sudah sejak lama saya tahu tentang buku ini karena saya mem-follow akun FB dokter Arifianto (Apin). Akan tetapi, saya pernah mencari buku ini di Gramed dan tidak ketemu. Segera setelah lahiran, saya cari buku ini di Tok*pedia dan Buk*lapak, tapi ngga nemu seller yang terpercaya. Akhirnya, alhamdulillah, dengan izin Allah, saya menemukan buku ini via Sh*pee.


Saya segera baca bab tentang batuk pilek karena saat itu Thole sedang batuk pilek. Seketika saya menyesal karena telah memberi obat ini itu pada Thole. Padahal, menurut dokter Apin–di buku tersebut–selesma atau common cold bisa sembuh sendiri tanpa obat. Dan benar saja, saya stop pemberian obat Thole ketika dia masih batuk pilek, dan beberapa hari kemudian sembuh sendiri. Alhamdulillah.


Di buku ini dibahas berbagai masalah kesehatan yang sering dialami anak. Dijabarkan juga cara penanganan di rumah (home remedy) dan kapan anak harus dibawa ke dokter. Yang tidak kalah penting adalah kolom Mitos vs Fakta. Salah satunya adalah fakta bahwa tidak semua bayi kuning harus disinar.


Sayangnya, ada beberapa typo alias salah ketik yang agak mengganggu ketika dibaca. Dan karena ini buku kesehatan, salah typo sedikit bisa sangat berbeda makna.


Menurut saya pribadi sebagai emak-emak baru, mamah-mamah muda, buku ini sangat penting sebagai salah satu referensi kesehatan anak. Semacam obat antipanik bagi orangtua.

Buku “Orangtua Cermat Anak Sehat” ini saya beli dengan harga Rp60.000 (plus tanda tangan dokter Apin lho! *salahfokus).

Empat Hal Seputar Melahirkan yang Jarang Diungkapkan

pexels-photo-59894

pexels.com

Bismillah…

Oke, dalam tulisan pertama ini, saya ingin berbagi beberapa hal seputar melahirkan, based on my experience. Jadi, seperti yang tertulis di judul, “yang jarang diketahui” atau yang jarang diobrolin dan dibilang. Sebenarnya entah jarang atau sudah banyak yang tahu. Tapi bagi saya, ada beberapa hal seputar proses melahirkan, yang saya baru tahu setelah mengalaminya. Padahal saya sudah baca berbagai artikel tentang melahirkan, tapi ternyata masih banyak yang luput, dan ironisnya, yang luput itu yang saya alami.

Kontraksi melahirkan tidak selalu sakit

Yang sering kita dengar, melahirkan itu sakit banget. Kontraksinya itu kayak “kebelet BAB banget, tapi ga boleh ngeden”, begitu kira-kira kata kakak saya. Ada seorang teman yang kontraksi atau mulesnya sampai berhari-hari. Belom lagi kalau ditambah dengan konpal alias kontraksi palsu.

Sebagai seorang yang sedang hamil pertama kali, saya tentu telah berpikir yang sama, bahwa melahirkan itu diawali dengan mules tak tertahankan. Dan saya pun menanti…menanti…menanti dorongan mules itu. Tapi, masyaallah, saya tidak merasakan mules!

Ya, pagi itu kira-kira pukul setengah 10 saya datang ke dokter karena memang jadwal periksa, dan saya juga flek sejak subuh. Setelah dicek, dokter bilang sudah pembukaan dua, dan tidak membolehkan saya pulang. Padahal saya tidak merasa mules sama sekali. Mules-mules kontraksi baru mulai saya rasakan setelah pembukaan 5, itu pun masih ringan, bisa diatasi dengan mengatur napas. Bahkan ketika sudah pembukaan 9, saya masih dengan antengnya tiduran, menunggu.

Jadi, mules kontraksi tidak selalu menyakitkan, walaupun umumnya demikian.

Posisi bayi tidak selalu menghadap bawah

Umumnya, wajah bayi menghadap bawah ketika dilahirkan. Namun, tidak selalu demikian. Saya sendiri mengalami yang disebut “sunny side up”, yaitu keadaan ketika wajah bayi menghadap ke atas saat lahir. Dampaknya, tulang tengkorak bayi akan menekan tulang ekor ibu, sehingga rasa sakit akan lebih terasa di bagian belakang atau disebut back labor.

Mungkin itu juga salah satu sebabnya saya tidak merasakan sakit kontraksi hebat saat pembukaan. Dan ketika mengejan pun, sakit yang muncul ada di bagian pinggul belakang, bukan mules seperti ingin BAB.

Antara per vaginam dan cesar

Mendekati HPL, saya sering membaca seputar kelahiran per vaginam atau pun kelahiran cesar. Namun ada hal yang terlewatkan, yaitu hal-hal di antara keduanya. Misalnya, per vaginam tapi dengan bantuan vakum dan forsep. Dan justru itulah yang saya alami.

Persalinan saya dibantu vakum karena sudah beberapa kali mengejan tanpa hasil alias nihil. Alamaak.. Akhirnya dokter yang sudah sangat bersusah payah membantu saya pun mengusulkan vakum. Saya setuju saja, karena udah ngga bisa mikir lagi. Dua kali divakum, ditambah kerja keras dokter, bidan, dan suster, dengan izin Allah, keluarlah anak pertama saya. Namun karena proses vakum, bentuk kepala bayi jadi tidak bulat, ada dua benjolan (tidak besar), dan sedikit lecet. Lecetnya sendiri sembuh total dengan sendirinya setelah kira-kira sebulan.

Kalau vakum, kepala bayi seperti disedot, sedangkan forsep menggunakan semacam penjepit untuk menarik kepala bayi.

Menyusui pertama kali itu sakit

Setelah melahirkan, proses selanjutnya adalah menyusui. Dan hal yang jarang dikatakan, diobrolkan, diketahui, adalah, menyusui pertama kali itu sakit (banget). Mungkin agak lebay, tapi yang jelas sakit. Terutama di hari pertama dan kedua menyusui. Kalo kata ortu sih karena lidah bayi masih kasar, tapi entah benar atau ngga. Kalau sudah biasa tentu tidak sakit sama sekali.

Ini empat hal “besar” yang menurut saya harus diketahui para bumil supaya tidak kaget. Ada yang ingin menambahkan? Karena saya yakin, setiap proses melahirkan merupakan pengalaman yang unik dan berbeda-beda tiap orang.