Hobi yang Tertinggal

Mari flashback ke masa lampau. Jauh sebelum ada Thole, sebelum menikah. Kala itu, ada sebuah hobi yang saya tekuni dengan hati senang dan badan pegal, yaitu sepedaan.

Sejak kecil saya senang sekali main sepeda. Di usia kira-kira enam atau tujuh tahun, saya telah lancar mengendarai sepeda roda dua ukuran dewasa. Saya dan teman-teman geng sekitar rumah sering main sepeda bareng, terutama sore hari. Tak jarang saya bergantian boncengan dengan teman-teman. Ah, menyenangkan sekali. Menikmati angin sore, bermain, sekaligus olahraga. Bagus untuk kesehatan, itulah yang saya sukai dari hobi ini.

Beranjak dewasa, kira-kira saat SMA, saya mulai jarang main sepeda, karena mulai merasa malu. Entah kenapa saat itu main sepeda terkesan hanya untuk anak-anak. Teman-teman saya pun tak ada lagi yang sepedaan. Saya hanya menggunakan sepeda untuk ke rumah teman, atau muter-muter saat suntuk.

Nah, titik balik terjadi ketika saya di bangku kuliah. Tren sepedaan kembali subur di kalangan anak-anak sampai dewasa. Saya pun bergabung dengan KosKas (Komunitas Sepeda Kaskus). Kegiatan sepedaan jadi makin menyenangkan karena ramai, banyak teman. Dari sana, saya mulai terbiasa bersepeda jarak jauh. Kegiatan kami biasanya di weekend. Kumpul di dekat FX, kemudian bersepeda ramai-ramai. Beberapa tempat yang pernah saya kunjungi bersama KosKas diantaranya acara Palang Pintu di Kemang, funbike ke Ancol, dan makan-makan di dekat Harmoni. Yang paling berkesan adalah fun bike ke Ancol. Itu adalah rekor terjauh saya sepedaan, Bintaro – Ancol. Pulangnya nebeng mobil sampai Blok M, dan lanjut sepedaan ke rumah. Tepar seketika.

Namun waktu berjalan, meninggalkan puncak kejayaan sepedaan. Saya pun harus pindah ke Sukabumi untuk bekerja, dan sepedaan kembali ditinggalkan. Di Sukabumi tetap sepedaan, sesekali, dan hanya jarak dekat.

Sekarang, sepeda yang dulu biasa saya pakai pun telah dijual. Saya pun sudah pindah ke Batam. Tak ada lagi sepeda. Ah, jadi rindu juga. Rindu mengayuh dibanjiri peluh, menyapa angin yang berlalu, terik pun tetap dilaju. Kapan ya sepedaan lagi? 🙂

Ternyata Liburan Itu Enak!

“Ternyata Liburan Itu Enak!” And this is how we know it.

Bulan Desember kemarin, demi memuaskan hasrat ingin liburan ke tempat yang adem namun tidak ramai, saya pun mengajak suami jalan-jalan ke Sukabumi. Tepatnya mengunjungi kakak saya. Kenapa? Karena di sana adeem, dan pemandangannya bagus, serta tidak perlu keluar biaya menginap alias bisi iriitt..hahaha..

Jadilah Kamis lalu kami bertolak dari Jakarta sekitar pukul 7 pagi. Kemudian sarapan di rest area tol Jagorawi dan melanjutkan perjalanan dengan santai. Pukul 11 kurang sedikit kami baru tiba di tujuan. Wusshh.. Hawa sejuk langsung menyapa.. Ahh.. Segar.. Biasa tinggal di dekat pelabuhan, sekarang di kaki gunung..

Lalu apa yang kami lakukan di sana? Tidak ada! Ya, hanya seperti silaturahim keluarga pada umumnya (mostly makan-makan..hehe..) Maklum saja, ini liburan dadakan, bukan ke tempat wisata pula.

Tapi kami cukup senang dengan suasana yang berbeda dan pemandangan yang hijau..

Liburan itu enak

Liburan itu enak

Meski hanya menginap semalam, saya dan suami langsung berkesimpulan bahwa “liburan itu enak!” haha.. Saya pun langsung mengajukan ide liburan selanjutnya pada suami, “ke Bintan yuk!”. Dan walaupun kami sebenarnya bukan keluarga yang gemar jalan-jalan namun semoga bisa terwujud dalam waktu dekat untuk liburan lagi.

“Kena, deh!”

“Kena, deh!” adalah sebuah acara komedi/reality show yang dulu pernah tayang di TV. Dalam acara tersebut, kamera rahasia sengaja diletakkan untuk merekam respon orang-orang yang akan dikerjain. Nah, kurang lebih seperti itulah yang terjadi.

Jadi, ceritanya, suami saya adalah orang yang sebenarnya humoris dan senang bercanda. Suatu hari, di rumah, ia pun membuat suara-suara lucu nan menggemaskan (hahaha). Tanpa sepengetahuannya, saya memulai tombol rekam di handphone sambil terus memancing agar dia melanjutkan tingkah lucunya itu.

“Yeeyy, dari tadi aku rekam..!hahaha..” sorak saya ketika tak mampu lagi menahan tawa. Dia pun seketika malu dan ikut tertawa ketika mendengar hasil rekamannya..hahaha..

Mengisi Tangki dengan Ngelendot

Supaya judul random ini keliatan maksudnya, marilah segera kita bahas saja.

Mengenai bahasa cinta Thole tentu saja belum benar-benar ketahuan. Tapi jika diamat-amati, bocah ini sepertinya lebih ke arah sentuhan fisik. Mengapa?

Karena Thole ini entah kenapa sering ‘ngelendot’ di paha saya atau bapaknya. Kalau sedang ngelendot, biasanya saya langsung usap-usap punggungnya.

Ngelendot ini bisa tiba-tiba. Lagi asik main sendiri atau main sama teman, mendadak ngelendot. Lagi makan, ngelendot. Sebentar siy memang, hanya paling semenit. Mungkin saat ini itulah cara memenuhi tangki cintanya dengan cepat.

Bicara tentang ngelendot. Saya teringat kakaknya teman saya, sebut saja Tomi. Suatu hari saya pernah main ke rumah teman saya itu, dan ketika masuk sholat magrib kami sholat berjamaah, termasuk dengan Tomi dan ortunya. Setelah selesai sholat dan dzikir, ada hal menarik. Si Tomi yang hanya lebih tua setahun dari saya ini tiba-tiba menghampiri ibunya dan tiduran bersandar, ngelendot, di paha ibunya.

Saat itu ibunya duduk di sebelah saya. Ibunya langsung mengelus-elus kepala Tomi dan mereka ngobrol santai.

Saya pun takjub dengan adegan ini. Karena Tomi tak malu-malu menunjukkan kedekatan dengan ibunya di depan kami, teman-teman adiknya. Ibunya pun memang orang yang lemah lembut.

Ah.. Manis sekali lah pokoknya.. Saya pun ingin kelak anak lelaki saya tak segan menunjukkan sayang dan cintanya. Mungkin diawali dengan ngelendot.

Tentang bahasa cinta ini, yuk kita baca pengalaman berbeda mama krucils yang kece.

Wanita Hebat

Mereka, para wanita, ibu, yang kau lihat hebat, cerdas, kuat, ceria, bahagia, bukanlah orang-orang yang tak pernah mendapat cobaan.

Mereka juga telah mengalami berbagai kesulitan, kesedihan, dan mereka melalui itu semua. Dengan kesabaran, dengan kekuatan, dengan keimanan, mungkin juga dengan air mata. Dan karena itulah, senyuman, kekuatan, kehebatan, dan kebahagiaan itu ada di wajah-wajah mereka. 

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. 2:286)