Review Buku Orangtua Cermat Anak Sehat

Nyesel! Kenapa Ngga dari Dulu Beli Buku Ini 🙁

Sebenarnya sudah sejak lama saya tahu tentang buku ini karena saya mem-follow akun FB dokter Arifianto (Apin). Akan tetapi, saya pernah mencari buku ini di Gramed dan tidak ketemu. Segera setelah lahiran, saya cari buku ini di Tok*pedia dan Buk*lapak, tapi ngga nemu seller yang terpercaya. Akhirnya, alhamdulillah, dengan izin Allah, saya menemukan buku ini via Sh*pee.


Saya segera baca bab tentang batuk pilek karena saat itu Thole sedang batuk pilek. Seketika saya menyesal karena telah memberi obat ini itu pada Thole. Padahal, menurut dokter Apin–di buku tersebut–selesma atau common cold bisa sembuh sendiri tanpa obat. Dan benar saja, saya stop pemberian obat Thole ketika dia masih batuk pilek, dan beberapa hari kemudian sembuh sendiri. Alhamdulillah.


Di buku ini dibahas berbagai masalah kesehatan yang sering dialami anak. Dijabarkan juga cara penanganan di rumah (home remedy) dan kapan anak harus dibawa ke dokter. Yang tidak kalah penting adalah kolom Mitos vs Fakta. Salah satunya adalah fakta bahwa tidak semua bayi kuning harus disinar.


Sayangnya, ada beberapa typo alias salah ketik yang agak mengganggu ketika dibaca. Dan karena ini buku kesehatan, salah typo sedikit bisa sangat berbeda makna.


Menurut saya pribadi sebagai emak-emak baru, mamah-mamah muda, buku ini sangat penting sebagai salah satu referensi kesehatan anak. Semacam obat antipanik bagi orangtua.

Buku “Orangtua Cermat Anak Sehat” ini saya beli dengan harga Rp60.000 (plus tanda tangan dokter Apin lho! *salahfokus).

Empat Hal Seputar Melahirkan yang Jarang Diungkapkan

pexels-photo-59894

pexels.com

Bismillah…

Oke, dalam tulisan pertama ini, saya ingin berbagi beberapa hal seputar melahirkan, based on my experience. Jadi, seperti yang tertulis di judul, “yang jarang diketahui” atau yang jarang diobrolin dan dibilang. Sebenarnya entah jarang atau sudah banyak yang tahu. Tapi bagi saya, ada beberapa hal seputar proses melahirkan, yang saya baru tahu setelah mengalaminya. Padahal saya sudah baca berbagai artikel tentang melahirkan, tapi ternyata masih banyak yang luput, dan ironisnya, yang luput itu yang saya alami.

Kontraksi melahirkan tidak selalu sakit

Yang sering kita dengar, melahirkan itu sakit banget. Kontraksinya itu kayak “kebelet BAB banget, tapi ga boleh ngeden”, begitu kira-kira kata kakak saya. Ada seorang teman yang kontraksi atau mulesnya sampai berhari-hari. Belom lagi kalau ditambah dengan konpal alias kontraksi palsu.

Sebagai seorang yang sedang hamil pertama kali, saya tentu telah berpikir yang sama, bahwa melahirkan itu diawali dengan mules tak tertahankan. Dan saya pun menanti…menanti…menanti dorongan mules itu. Tapi, masyaallah, saya tidak merasakan mules!

Ya, pagi itu kira-kira pukul setengah 10 saya datang ke dokter karena memang jadwal periksa, dan saya juga flek sejak subuh. Setelah dicek, dokter bilang sudah pembukaan dua, dan tidak membolehkan saya pulang. Padahal saya tidak merasa mules sama sekali. Mules-mules kontraksi baru mulai saya rasakan setelah pembukaan 5, itu pun masih ringan, bisa diatasi dengan mengatur napas. Bahkan ketika sudah pembukaan 9, saya masih dengan antengnya tiduran, menunggu.

Jadi, mules kontraksi tidak selalu menyakitkan, walaupun umumnya demikian.

Posisi bayi tidak selalu menghadap bawah

Umumnya, wajah bayi menghadap bawah ketika dilahirkan. Namun, tidak selalu demikian. Saya sendiri mengalami yang disebut “sunny side up”, yaitu keadaan ketika wajah bayi menghadap ke atas saat lahir. Dampaknya, tulang tengkorak bayi akan menekan tulang ekor ibu, sehingga rasa sakit akan lebih terasa di bagian belakang atau disebut back labor.

Mungkin itu juga salah satu sebabnya saya tidak merasakan sakit kontraksi hebat saat pembukaan. Dan ketika mengejan pun, sakit yang muncul ada di bagian pinggul belakang, bukan mules seperti ingin BAB.

Antara per vaginam dan cesar

Mendekati HPL, saya sering membaca seputar kelahiran per vaginam atau pun kelahiran cesar. Namun ada hal yang terlewatkan, yaitu hal-hal di antara keduanya. Misalnya, per vaginam tapi dengan bantuan vakum dan forsep. Dan justru itulah yang saya alami.

Persalinan saya dibantu vakum karena sudah beberapa kali mengejan tanpa hasil alias nihil. Alamaak.. Akhirnya dokter yang sudah sangat bersusah payah membantu saya pun mengusulkan vakum. Saya setuju saja, karena udah ngga bisa mikir lagi. Dua kali divakum, ditambah kerja keras dokter, bidan, dan suster, dengan izin Allah, keluarlah anak pertama saya. Namun karena proses vakum, bentuk kepala bayi jadi tidak bulat, ada dua benjolan (tidak besar), dan sedikit lecet. Lecetnya sendiri sembuh total dengan sendirinya setelah kira-kira sebulan.

Kalau vakum, kepala bayi seperti disedot, sedangkan forsep menggunakan semacam penjepit untuk menarik kepala bayi.

Menyusui pertama kali itu sakit

Setelah melahirkan, proses selanjutnya adalah menyusui. Dan hal yang jarang dikatakan, diobrolkan, diketahui, adalah, menyusui pertama kali itu sakit (banget). Mungkin agak lebay, tapi yang jelas sakit. Terutama di hari pertama dan kedua menyusui. Kalo kata ortu sih karena lidah bayi masih kasar, tapi entah benar atau ngga. Kalau sudah biasa tentu tidak sakit sama sekali.

Ini empat hal “besar” yang menurut saya harus diketahui para bumil supaya tidak kaget. Ada yang ingin menambahkan? Karena saya yakin, setiap proses melahirkan merupakan pengalaman yang unik dan berbeda-beda tiap orang.