Ringkasan Materi Bedah Buku Agar Sehafal Al Fatihah

Bismillah…

Alhamdulillah.. Hari Minggu, tepatnya 11 Maret 2018 lalu, Ibu Profesional Batam mengadakan acara bedah buku “Agar Sehafal Alfatihah”. Buku ini adalah tulisan karya Arham bin Ahmad Yasin, Lc, MH, Al Hafidz. Acara bedah buku ini sendiri diisi oleh ustadzah Afifatun Nisa, Lc.

Alhamdulillah saya dapat hadir di acara yang penuuhh manfaat ini. Nah, di tulisan kali ini saya ingin berbagi beerapa poin yang saya garisbawahi dari materi acara bedah buku tersebut.

  • Pertama adalah niat. Ya, dalam berbagai hal, niat atau visi adalah faktor penting. Demikian pula dalam menghafal alquran. Apa tujuan kita menghafal alquran?
  • Kedua, besarnya tekad kita menghafal alquran berbanding lurus dengan seberapa paham kita akan kemuliaan alquran.
  • Ketiga, menghafal alquran harus bersungguh-sungguh dan siap berkorban pikiran, waktu, tenaga, dll.
  • Keempat, siap melawan berbagai godaan dengan bersabar dan konsisten.
  • Kelima, meyakini bahwa menghafal alquran itu mudah,yang berat hanyalah mengambil mushaf alquran dan membacanya.
  • Keenam, perhatikan etika terhadap alquran. Diantaranya dengan bersuci, membaca ta’awudz, dan khusyuk
  • Setiap hari harus ada waktu khusus alquran. Waktu tersebut harus ditetapkan, dijadikan waktu istimewa, dan ditepati.
  • Menetapkan target yang realistis, jelas dan terukur.
  • Membuat strategi menghafal, misalnya target satu setengah halaman per minggu, dan mengulang-ulang hafalan dalam seminggu tersebut.
  • Contoh cara menghafal yaitu dengan membaca dulu surat atau halaman yang ingin dihafal sekurangnya lima kali dengan penuh konsentrasi. Bisa juga sambil memperdengarkannya pada guru atau teman yang lebih ahli.
  • Jika sudah hafal, maka harus sering diulang-ulang, perbanyak muraja’ah. Sekali hafal jangan sampai lupa lagi. Sehingga hafalan benar-benar bertambah dan bukan ‘mengganti hafalan’.
  • Jika berniat menghafal alquran maka iringilah dengan menjauhi segala yang sia-sia apalagi haram.

Semoga yang berniat menghafal alquran diberi kemudahan oleh Allah serta dijauhkan dari kemalasan ya. Aamiiin.. 🙂

Anak Tidur, Enaknya Ngapain Ya?

“Wah, alhamdulillah bocah bobo siang. Hmm.. Ngapain ya sekarang?”

Pertanyaan itu dulu sering sekali menghampiri diri ini. Terutama setelah anak sudah mulai bisa merangkak, waktu tidur siang anak menjadi waktu yang amat berharga bagi emak-emak seperti saya.

Karena tentunya banyak hal yang tidak bisa dilakukan jika anak sedang terbangun. Saking bingungnya mau ngapain, kadang malah keasikan main hape (lha). Dan tanpa dirasa, tanpa diminta, terdengar suara “oeekk oeekk”. Bocah udah bangun lagi. Baru deh rasa sesal membuncah karena menyia-nyiakan waktu berharga. Hahaha… *eh, kok ketawa*

Nah, karena makin besar anaknya makin berharga waktu tidur siangnya (bagi emak-emak), saya pun belajar mengatur waktu dan kegiatan. Supaya tidak terbuang sia-sia lagi. Berikut beberapa pilihan kegiatan saya ketika anak bobo.

Ikutan tidur

Ini penting bagi emak-emak, apalagi yang waktu tidur malamnya banyak tersita dengan nyusuin anak. Dan tentunya saya tidak bisa tidur siang saat anak tidak tidur, terlalu berisiko. Risiko anak nangis, anak mainin benda berbahaya, atau anak tiba-tiba ngedubruk di perut emaknya yang lagi pules. Maknyuus.. apalagi kalau berat badan anaknya sudah mencapai seperempat berat emaknya. Duh! Tapi tidurnya ga perlu lama-lama. Kalau anak tidur dua jam, yaa saya satu jam gitu kira-kira cukuplah.

Makan

Makan dan minum dengan tenang. Hal yang mulai langka terlebih ketika anak sudah lancar jalan. Makan tepat waktu juga penting dalam menghadapi anak-anak. Karena kalau laper, biasanya lebih cepat emosi. Eh, apa itu saya doang ya?

Menulis

Inilah kegiatan yang saya berusaha sempatkan walaupun sulit. Dan seringkali dalam sekali duduk tulisan tidak langsung kelar.

Membaca

Buku-buku bagus sudah mengantri untuk dibaca, tapi tentu tidak bisa dibaca ketika anak sedang main. Kecuali sudah rela bukunya disobek-sobek.

Ibadah

Ini yang sangat penting. Para emak-emak pasti sudah tak asing lagi dengan sajadah yang diacak-acak saat sholat, dipuk-puk punggungnya saat sujud, dan ditarik-tarik mukenanya saat duduk. Walhasil sedikit banyak konsentrasi tentu terganggu. Karena itu jika anak tidur dan sudah masuk waktu sholat, maka itu adalah salah satu karunia.

Kegiatan-kegiatan inilah yang sudah mengisi daftar antrian kerjaan ketika anak tidur. Sehingga tidak ada (banyak) lagi waktu terbuang sia-sia.

Kok ga ada kegiatan “kerjaan rumah” ya dalam daftar di atas?

Well, hal itu karena saya tak ingin disibukkan dengan pekerjaan rumah seperti memasak, mencuci, dll, di siang hari. Sebisa mungkin memasak saya selesaikan di pagi hari sebelum suami berangkat. Sedangkan mencuci di malam hari setelah suami pulang kerja. Dengan pembagian ini saya bisa memanfaatkan waktu di siang hari untuk hobi dan lain-lain.

Kalau kata Ibu Septi Peni Wulandani, selama kita masih terjebak rutinitas, jangan harap ada kreativitas.

Selamat memanfaatkan waktu luang!

Lepas Rindu Bubur Barito dengan Bubur Dokar

Sarapan bubur adalah salah satu favorit sarapan saya dan suami di akhir pekan. Di Batam ini, ada beberapa bubur yang menjadi pilihan saya dan suami. Pertama adalah bubur Goodway yang terletak persis di sebelah hotel Goodway. Buburnya enak walaupun lama-lama saya merasa porsinya kurang.hehe..

Kedua, bubur Mang Doel yang terletak di Tiban BTN. Enak, relatif murah, dan banyak. Bahkan kadang sampai kekenyangan. Wew..

Nah, baru-baru ini ada satu bubur lagi yang langsung jadi favorit saya dan suami yaitu bubur Dokar. Bubur ayam Dokar ini terletak di komplek ruko Cipta Land, jalan masuknya dari depan sekolah Ulil Albab. Kenapa bubur Dokar menjadi favorit? Alasan sederhananya adalah karena bubur ini rasanya mirip sekali dengan bubur Barito di Jakarta.

Yap, bubur Barito sudah terkenal di Jakarta. Sayangnya lokasinya agak jauh dari rumah sehingga kami jarang kesana. Selain itu harganya pun sudah melangit. Untungnya, bubur Dokar memiliki rasa yang sangat mirip. Bubur di sini tidak menggunakan kaldu, tapi buburnya saja sudah gurih. Sepertinya direbus menggunakan kaldu ayamnya sehingga sudah enak. Bedanya dengan bubur Barito yaitu tidak adanya cheese stick. Ya, bubur Barito menggunakan cheese stick (atau bawang ya?) sebagai pengganti kerupuk. sedang kan bubur Dokar masih menggunakan kerupuk. Tapi ini bukan perbedaan besar untuk saya.

Harga seporsi bubur ayam di sini awalnya Rp12000 ketika saya pertama mencoba, kira-kira tiga bulan lalu. Namun sayang sekali, baru-baru ini harganya naik jadi Rp15.000 :((

My husband still love it though.

Selain bubur ayam, ada banyak menu yang disediakan di Dokar ini, diantaranya i fu mie, nasi goreng, kwetiaw, dan lain-lain.harga pun bervariasi mulai dari Rp20.000. Kalau Anda mencoba sarapan di sini, sempatkan menengok ke laut yang ada tak jauh dari Dokar. Walaupun tak ada pasir pantainya, tapi lumayan untuk memanjakan mata, melepas stress sedikit. 🙂

Tentang Ibu Mertua

Ibu mertua oh ibu mertua…

Terlalu banyak kisah tentang mertua yang saya dengar, dan kebanyakan adalah kisah tidak menyenangkan. Ada ibu mertua yang pelit, ada yang sering merecoki, ada yang sering melarang-larang, dan banyak lagi. Awalnya saya biasa saja mendengar kisah-kisah tersebut. Namun kelamaan, saya jadi tergugah untuk menulis tentang ibu mertua saya. Karena ibu mertua saya itu, masyaAllah, baiik banget!

Alhamdulillah saya mempunyai seorang ibu mertua yang berhati baik, sikap dan tutur katanya pun lemah lembut. Beliau memperlakukan saya layaknya anak sendiri. Ketika saya mengabarkan akan melahirkan, padahal saya baru pembukaan dua, beliau langsung datang ke rumah sakit dengan membawa tas baju saya. Bahkan bapak mertua saya langsung izin dari kantor, waktu itu jam dua, dan datang ke rumah sakit juga. Duh, jadi ngga enak banget saya, padahal lahirannya ternyata baru jam 10 malam.

Setelah lahiran, saya tinggal di rumah mertua di Jakarta, sementara suami di Batam. Agak sedih juga karena LDM-an, tapi lagi-lagi alhamdulillah, ibu mertua saya sangat baik. Beliau yang setiap hari memandikan anak saya, beliau juga yang mencucikan baju anak saya. Ini terus beliau lakukan selama tiga bulan saya di sana. Bukan saya yang minta, lho. Hehe.

Beliau juga sangat tidak pelit. Setiap kali belanja bulanan, beliau tak lupa membelikan popok, dan macam-macam cemilan untuk saya yang bawaannya laper selalu. Maklum lah, busui ya kan.

Tak hanya itu, beliau juga sering memberikan barang-barang pada saya. Mulai dari dompet, baju, kerudung, sampai sepatu. Pernah suatu kali beliau mengajak saya dan suami ke acara keluarga besar di sebuah hotel bintang lima. Padahal saya tak bawa baju formal, dan beliau pun memberikan salah satu baju batiknya untuk saya.

Hh.. Ibu, ibu.. Maafkan menantumu ini yang banyak merepotkan. Apalagi kalau urusan dandan. Untungnya ibu mertua saya bersedia dengan sabar mendandani saya yang sama sekali tidak bisa dandan ini.

Salah satu keluhan yang biasa saya dengar tentang ibu mertua adalah suka mengatur atau ikut campur. Nah, hal ini juga saya sempat khawatir ketika awal menikah. Tapi lagi-lagi, alhamdulillah, kekhawatiran saya tidak terbukti. Mertua saya, baik bapak maupun ibu, tak pernah mengatur atau merecoki urusan rumah tangga saya dan suami. Beliau hanya sesekali bertanya, atau memberi pendapat, itu pun jika diminta. Namun beliau tak pernah memaksakan pendapatnya.

Tentu saja, tak ada ibu mertua yang sempurna. Adakalanya saya kurang sreg dengan keinginan atau pendapat ibu mertua, tapi ini sangat wajar. Bahkan dengan ibu kandung saja kita tak selalu satu suara, kan? Yang terpenting adalah saling menerima, memahami, menyayangi, dan menghormati. Saya masih harus banyak belajar tentang ini.

Demikian “uneg-uneg” saya tentang mertua. Semoga mertua, dan ibu kandung saya, selalu diberi kesehatan dan keberkahan oleh Allah. Dan semoga Allah selalu merahmati rumah tangga kita semua dan menjaga hubungan kita dengan mertua. Aamiin..

Bagi yang belum punya mertua, semoga segera mendapat mertua yang baik yaa. 🙂

Lindungi Anak dari TV

Televisi, benda yang akrab dengan kehidupan kita sehari-hari. Kehadirannya sering disebut-sebut sebagai sarana hiburan bahkan pendidikan. Namun benarkah demikian?

Televisi bagi orang dewasa mungkin hanya sekedar hiburan atau sumber informasi. Akan tetapi lain cerita bagi anak-anak. Tak sedikit artikel, baik dalam maupun luar negeri, yang menunjukkan sejumlah dampak buruk televisi bagi anak-anak. Diantaranya dapat mendorong sikap agresif, kecemasan, bahkan overweight.

Tayangan yang telah diperuntukkan bagi anak-anak pun ternyata tidak benar-benar berkualitas. Hal ini tentu perlu menjadi perhatian khusus orang tua agar tak membebaskan sepenuhnya anak-anak menonton televisi.

Salah satu dampak buruk televisi dapat tergambarkan pada iklan layanan masyarakat berikut ini.

Walaupun hanya beberapa detik, menurut saya iklan ini sangat efektif. Menyeramkan bukan melihat aksi bocah dalam iklan tersebut? Mungkin agak berlebihan, namun bukan hal yang mustahil. Iklan ini menunjukkan betapa bahayanya televisi, dan tentunya kita sebagai orang tua tak ingin anak-anak kita mendapat pengaruh buruk dari tontonan televisi.

“Don’t let your child be educated by TV” demikian bunyi tagline di akhir iklan. Inilah pesan yang perlu diingat oleh para orang tua dalam mengawasi anaknya. Tentunya pesan ini dapat diperluas, tak hanya untuk TV, namun juga gadget lain.

Lalu bagaimana cara melindungi anak dari TV?

Ada beberapa cara yang bisa digunakan, misalnya dengan mengajak anak beraktifitas di luar ruangan. Selain mengalihkan perhatian dari TV, aktif bergerak juga baik bagi kesehatan. Jika tidak ingin atau tidak memungkinkan untuk bermain di luar, ada alternatif lain seperti membaca buku, atau mendengarkan buku melalui audiobook. Ada pula opsi hiburan yang simpel yaitu radio. Semua ini dapat menjadi pilihan agar anak tak melulu menonton TV.

Jika anak masih ingin menonton TV, sebaiknya orang tua membatasi durasi, atau menentukan jam-jam khusus. Jangan lupa juga selalu mengawasi anak ketika menonton TV atau media lain (ex: YouTube).