Tentang Thole (2): Happy Eating

Bismillah…

Setelah membahas tentang berat badan, di tulisan kali ini saya akan bahas sedikit mengenai makanan Thole. Berangkat dari ‘modal’ awal BB yang mencukupi, saya jadi tidak terlalu ketat dalam hal makanan. Tidak menargetkan anak harus habis sepiring tiap kali makan, dsb.

Menu MPASI saya mengikuti yang banyak di share di medsos. Patokan utamanya tetap 4 bintang dari WHO. Emak-emak muda kemungkinan besar udah pada tau lah yaa..

Nah, selanjutnya adalah bagaimana membuat makanan yang sudah dibuat dengan cinta itu bisa diterima anak dengan baik alias dimakan. Untuk Thole sendiri saya punya prinsip bahwa “makan harus senang”, saya tidak mau memaksa apalagi mencekoki makanan. Membujuk, merayu, iya, tapi tidak memaksa. Ketika Thole tidak mau makan, atau hanya mau beberapa suap, saya akan berusaha rayu dulu, membuatnya happy dengan mainan atau obrolan atau ekspresi-ekspresi wajah lucu. Kalau tetap tidak mau yaa ya sudah, mungkin memang dia tidak lapar.

Kedua, biasanya saya beri jarak antara menyusu dengan makan. Minimal satu jam setelah menyusu. Ini khususnya ketika usia 6 bulan – 1 tahun. Karena setelah setahun ke atas Thole sih tetep lahap makannya walaupun baru aja menyusu.

Selanjutnya adalah masalah porsi. Seperti di tulisan saya sebelumnya, porsi makan Thole tidak terlalu banyak. Di usia-usia 6 – 8 bulan kira-kira hanya dua sendok makan tiap kali makan. Di usia 9 bulan perlahan naik tergantung mood anak. Selain itu, anak sebenarnya belum perlu porsi yang besar. Karena di usia 6 – 12 bulan ini tujuan utama anak makan adalah memperkenalkan kegiatan makan, jadwal makan, dan rasa makanan, sedangkan sumber energi masih banyak berasal dari ASI.

Oke, selain memberi makanan homemade, saya juga memberi makan dengan makanan instan. Ini biasanya ketika makanan homemade-nya habis, atau sedang pergi-pergi. Satu hal penting yang perlu dilakukan ketika memilih makanan instan adalah: PERHATIKAN LABEL. Apa yang perlu diperhatikan pada label?

  • Label halal dan BPOM. Mutlak.
  • Tanggal kadaluarsa
  • Sesuai usia. Sangat penting karena menyangkut kandungan gizi dan tekstur.
  • Kandungan gizi. Yang biasanya saya pelototi di bagian ini adalah kandungan gula dan garam. Karena pada anak usia di bawah setahun hanya bisa menerima natrium/sodium maksimal 0,4 gram (400 mg) per hari (sumber:Baby Center). Jadi pastikan makanan yang dipilih adalah yang natriumnya lebih rendah. Sedangkan untuk gula, saya lebih khawatir berefek buruk pada gigi dan membuat anak lebih suka yang manis-manis. Saya biasanya agak lama memandangi tabel kandungan gizi ini karena memang kandungan gula garam antarproduk bisa berbeda jauh. Ada yang dalam sekali sajian gulanya hampir 10 gram, ada yang hanya 2 gram. Dan, jangan lupa, kandungan gizi dalam tabel adalah kandungan per sajian yaa.

Ketika Thole susah BAB di usia sekitar 6 – 8 bulan, dokter sempat mengatakan tidak apa-apa memberikan makanan instan karena makanan lebih mudah dipantau asupan gizinya.

Hm… Sepertinya itu aja yang bisa saya share kali ini. Semoga bermanfaat ya buibuu.. 🙂

Tentang Thole: Ndut, Ya!

Bismillah..

Sejak Thole lahir, sudah puluhan atau bahkan mungkin ratusan kali saya menerima ujaran-ujaran seperti “Wah, ndut banget!”, “Wah, gemuk kali!”, “Ya ampun, dedeknya besar, mamaknya kecil”. Bahkan sampai sekarang masih ada yang mengatakan demikian, padahal Thole sudah cukup langsing dibanding beberapa bulan lalu.

Biasanya sambungan dari ujaran di atas adalah ujaran lain semisal “nyusunya banyak ya?”, “makannya gampang ya?”, “makannya banyak ya?”. Kemudian diikuti dengan “apa sih rahasianya? Tipsnya?” Lah, jadi berasa tagline iklan susu yak. Hahaha.

Nah, di kesempatan kali ini saya akan berbagi pengalaman seputar bagaimana Thole bisa endut. Sekali lagi, ini meurut pengalaman pribadi yak, bukan menurut keilmuan. Jadi sangat mungkin berbeda dengan ibu-ibu lain.

Alhamdulillah, Thole lahir dengan BB yang menurut saya cukup besar untuk jaman sekarang yaitu 3,58 kg. Ini menjadi modal awal. Saat di rumah sakit pun saya lihat bayi-bayi lain tak sebesar Thole.

Pertambahan berat badan sangat pesat pada Thole terjadi di tiga bulan pertama. Di usia satu bulan beratnya telah bertambah menjadi 4,8 kg, kemudian bulan kedua enam kg, dan bulan ketiga sudah mencapai delapan kg. Ketika itu memang sih Thole keliatan guede banget dibanding anak-anak seusianya. Dokter pun agak heran dan sempat mengira saya memberi sufor. Padahal ngga sama sekali.

Apa yang saya berikan di tiga bulan pertama? ASI, dan hanya ASI. Sehari setelah persalinan, ASI saya langsung keluar, saya pun langsung menyusui agar Thole bisa mendapat kolostrum yang penuh manfaat. Di bulan-bulan awal, Thole menyusu sangat sering, sekitar dua jam sekali. Bahkan kadang baru sejam sudah menyusu lagi. Nah, di tiga bulan pertama ini, saya tinggal bersama mertua yang sangat baik. Alhamdulillah. Sehingga pola makan saya teratur, tiga kali sehari, selingan pun ada, buah-buahan juga, macem-macem lah ya. Asupan gizi ini juga mungkin menjadi faktor ASI yang dihasilkan banyak dan nutrisinya terjaga. (halah!)

Memasuki usia empat bulan, Thole dan saya kembali ke Batam. Disinilah perlambatan penambahan berat badan mulai terjadi. Pola menyusu masih sering, walaupun tidak sesering di dua bulan pertama. Sampai usia enam bulan, ketika memulai MP ASI, berat Thole baru sekitar sembilan kg. Hanya nambah sekilo selama tiga bulan. Meski demikian, menurut grafik BB/U CDC, ini sudah hampir menyentuh 90 persentil.

Kemudian beratnya baru menyentuh angka sepuluh kg ketika usianya hampir sepuluh bulan. Menurut grafik, sudah di bawah 75 persentil, tapi masih di atas 50 persentil. Sampai saat usia 14 bulan, berat badan Thole masih di kisaran 11 kg. Jika dibandingkan dengan pertambahan BB di bulan-bulan awal, tentu sangat menurun. Tapi karena menurut grafik BB/U dan BB/TB masih sedikit di atas 50 persentil, saya masih agak santai.

Jadi, kalau dibilang “makannya banyak” sebenarnya tidak juga. Dibanding anak-anak seumurannya, porsi makan Thole justru sedikit. Karena emaknya suka mager (jangan ditiru yak!). Hehe.  Berat badan ini menurut saya karena modal awalnya (di tiga bulan pertama) itu gede, alias sangat pesat. Sehingga ketika sekarang dia sudah semakin aktif, badannya ngga kurus-kurus banget lah gitu.

Dalam urusan MPASI, saya bukan emak-emak yang terlalu kaku atau strict. Saya berusaha (ingat, “berusaha”) mengikuti panduan 4 bintang dari WHO yang banyak di share di medsos. Walaupun pada prakteknya tak jarang hanya tiga bintang. Frekuensi makan tiga kali sehari, dan kadang dilengkapi makan selingan, berupa biskuit atau buah, kadang tidak. Kadang juga makannya hanya dua kali. Ini biasanya kalau Thole tidur siangnya lamaaa atau lagi bepergian.

Oiya, saya juga tidak anti terhadap makanan instan kemasan yang tinggal seduh. Dalam seminggu, kira-kira satu dua kali Thole saya beri makanan instan. Karena menurut sumber yang saya baca dan dengar, makanan instan tidak dibuat dengan bahan pengawet, melainkan dengan proses pengeringan. Kandungan nutrisinya pun jelas, jadi tak ada salahnya sesekali memberikan makanan instan. Yang penting ada label halal dan BPOM.

Nah, demikianlah sekelumit cerita pengalaman saya tentang Thole. Semoga bermanfaat ya..

Begini Toh Ternyata Flu Singapur Itu

Sore selepas mandi, Thole demam. Perlahan naik dan naik suhunya. Sampai menjelang tidur badannya panas sekali. Saya tidak lantas panik, karena dia masih terlihat aktif, walaupun memang malam itu dia tidur lebih cepat. Mungkin karena lemas. Malam itu pun dia tidur dengan nyenyak seperti biasa.

Paginya, alhamdulillah demamnya sudah hilang. Thole bangun dengan ceria. Eh, tapi kok tiba-tiba ada bejendol-bejendol di bagian sikunya? Kanan dan kiri pula. Wah, kenapa lagi nih? Lagi-lagi saya masih santai, karena kelihatannya tidak gatal, dan anaknya masih anteng. Masih nafsu makan masakan saya yang ngga ada rasanya.Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Saya hanya balurkan lotion bayi sesekali, pernah juga minyak butbut dari tetangga. Tapi sepertinya tidak berpengaruh. Hari ketiga saya agak kepikiran juga, karena jendolan tersebut berubah menjadi seperti bekas luka. Akhirnya saya dan suami membawa Thole ke dokter untuk mengetahui penyakit apa ini. Khawatir itu cacar, walaupun unlikely siy.

Setelah memeriksa sampai ke bagian punggung, bokong, dan mulut, dokter pun menegakkan diagnosis Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang umum disebut flu singapur. Ternyata di mulut Thole juga ada dua jendolan, kata dokter. Tapi alhamdulillah hal itu tidak mengganggu aktivitas makannya, tetap lahap. Dokter tidak memberikan obat minum, karena penyakit ini disebabkan virus, dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 3 sampai 7 hari. Dokter hanya menyarankan agar banyak makan dan banyak minum.

“Menular ngga, Dok?” tanya suami.

“Sangat, Pak, sangat menular.”

Wew, mana dari kemarin Thole tetap main seperti biasa. Jadi khawatir teman-temannya tertular.

“Tapi tergantung imunitas tiap orang juga. Kalau lagi fit ya bisa ga tertular,” tambah dokter.

Benar saja, keesokannya jendolan-jendolan tersebut kempes sendiri, berganti menjadi seperti bekas luka. Dan beberapa hari kemudian hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah. Sayangnya ada satu teman Thole yang kebetulan main, of all day, dan akhirnya ketularan 🙁

Tapi anak tetangga yang beberapa kali main bareng malah tidak tertular.

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR Ahmad)

HFMD ini, menurut situs Baby Center, adalah penyakit yang umum terjadi pada anak balita. Jadi tidak perlu panik. Namun tingkat keparahan bisa berbeda-beda. Misalnya Thole, di mulut tidak banyak sariawan, jadi bisa tetap makan dan tidak rewel. Sedangkan temannya yang tertular rupanya banyak sariawan sehingga rewel dan ngga bisa makan minum.

Intinya jangan panik dulu ya buibu.. 🙂

Biduran Oh Biduran…

Apakah itu biduran? Apakah sejenis makanan? Atau hiburan? (eh?)

Ternyata tidak. Kata yang bahkan belum pernah saya dengar sebelumnya ini adalah nama sebuah penyakit, atau lebih tepatnya reaksi alergi.

Ya, kali ini saya akan bercerita mengenai reaksi alergi yang dialami Thole beberapa waktu lalu. Jadi ceritanya saat itu Batam diguyur hujan berhari-hari, siang malam. Suhu udara pun sampai di titik 23 derajat celcius. Dingiinn banget dh untuk ukuran Batam. Kalau di Sukabumi siy udah biasa suhu segitu.

Eh, tetiba di badan Thole muncul ruam. Awalnya hanya seperti bentol bekas gigitan nyamuk. Tapi beberapa jam kemudian kempes dan melebar. Semula hanya di paha, kemudian menyebar ke mana-mana. Saya langsung berhipotesis, ini alergi. Tak tunggu lama, saya langsung ubek-ubek buku pegangan emak-emak muda kece, dan mencari bab alergi. Dugaan saya mengerucut pada urtikaria (biduran) dan dermatitis atopi. Apalagi setelah tanya di grup ibu-ibu IP Batam, ternyata ada yang pernah mengalami biduran juga.

Biduran
Biduran

Dan mulailah mencari sumber masalah, alergi apa? Karena tidak ada hal baru akhir-akhir ini selain suhu yang sangat dingin. Saya pun santai saja karena Thole sendiri masih aktif seperti biasa. Namun dua hari kemudian ibu saya mendorong untuk ke dokter agar lebih jelas. Saya penasaran juga untuk tahu lebih jelas. Akhirnya kami memutuskan ke dokter. Ternyata benar, diagnosis dokter adalah urtikaria alias biduran, yang merupakan reaksi alergi.

Sebenarnya biduran ini tidak bahaya, tapi bisa jadi bahaya jika muncul juga di saluran napas dan menghambat jalan napas. Dokter pun memeriksa napas Thole dan alhamdulillah normal, tidak ada sesak. Dokter meresepkan obat Estin (Cetrizin) yang diminum sehari sekali. Jika biduran tidak terlalu banyak, kata dokter, bisa diberikan obat salep. Tapi karena Thole bidurannya sebadan, dosis salepnya bisa terlalu besar.

Kecurigaan pada hawa dingin sebagai penyebab pun tampaknya benar. Pasalnya, setelah cuaca di Batam berangsur-angsur normal, biduran ini berkurang dan sembuh. Alhamdulillah. Bagi ibu-ibu yang mengalami masalah serupa, tak perlu panik. Langsung cari tahu penyebab alergi dan amati napas anak. Untuk memastikan, tak ada salahnya ke dokter.