Anak Belum Bisa Baca? Bacakan Dulu!

“Menstimulasi Anak Senang Membaca” hal pertama yang terbesit ketika mendengar judul materi ini adalah “gimana baca, wong ngomong aja belom bisa?”. Ya, awalnya saya pesimis. Pasalnya Thole, di usia yang sudah 16 bulan, baru bisa mengucap jelas kata “mama”. Itu pun kalau lagi merengek minta sesuatu. Nah, gimana pula mau baca?

Ah, emang mamamu ini masih fakir ilmu ya Le.

Materi pun digulirkan, tantangan dilayangkan, saya coba jalankan walaupun ada keraguan. Tapi yang penting adalah konsistensi. Mulai dari hari pertama, saya mencoba serius membacakan dia buku. Saya pun bacakan dengan suara lantang, ekspresi yang lebay, dan lain-lain supaya dia tertarik. Tak hanya sekali, dalam satu hari saya bacakan buku beberapa kali.

Satu, dua, tiga, sampai akhirnya sepuluh hari saya lakukan tantangan tersebut. Hasilnya, it amazed me. Ada beberapa perubahan–yang menurut saya cukup drastis–dari respon Thole. Yang tadinya dia cuek, sekarang dia kelihatan interested bahkan excited. Kedua, Thole sudah hafal buku-bukunya. Misal saya katakan “Hewan-hewan di Hutan” dengan nada tertentu, dia akan langsung mengambil buku Hewa di Hutan. Begitupun dengan buku-buku lain. Dia sudah hafal!

Ketiga, Thole mulai baca sendiri! Oke, ini lebay, tentu saja dia belum bisa membaca. Tapi sekarang dia suka buka-buka buku sendiri terus ngoceh-ngoceh ga jelas seolah sedang membaca. Wow!

Keempat, dia juga sudah hafal ketika saya bilang, “membaca bukuuu!” dengan lantang. Dia akan langsung menuju tumpukan bukunya. Masya Allah, ternyata memang benar, anak kecil itu sudah dibekali kepintaran, tinggal bagaimana orang tua membangkitkannya saja.

Dengan demikian, materi kelima di kelas Bunda Sayang ini menjadi salah satu favorit saya, so far.

Oiya, satu lagi, sebenarnya tugasnya adalah membuat pohon literasi ya. Akan tetapi karena buku yang dibaca diulang-ulang, alhasil daunnya hanya segitu-gitu saja. Malah yang nambah lebat rantingnya. hehe..

Nah, satu hal lagi yang perlu saya ingat. Kemampuan membaca bukanlah langkah pertama, melainkan sebuah proses dalam melatih keterampilan berbahasa yang diawali dengan keterampilan mendengarkan. Jadi, membacakan buku adalah langkah awal yang memang penting. Berikut tahapan melatih keterampilan berbahasa (diambil dari materi kuliah Bunda Sayang Institut Ibu Profesional Batch 3):

  • Keterampilan mendengarkan (listening skills)
  • Ketrampilan Berbicara (speaking skills)
  • Ketrampilan Membaca (reading skills)
  • Ketrampilan Menulis (writing skills)

Workshop Menulis: Ayo Berkarya Lagi!

Berkumpul dengan teman-teman yang sehobi memang selalu menyenangkan. Banyak ilmu yang bisa dibagikan, pengalaman yang diceritakan, dan semangat yang ditularkan. Tak terkecuali dalam workshop “Sehari Jadi Buku” yang digelar oleh Rumbel Menulis IP Batam dan Kopi Write Indonesia (KWI) minggu lalu.

Workshop Sehari Jadi Buku

Kembali bersungguh-sungguh menulis, itulah semangat yang ditiupkan dalam workshop ini. Intinya menulis, menulis, menulis. Dalam workshop ini dipaparkan juga tips mendapatkan ide menulis, dan bagaimana menulis yang sesuai PUEBI. Siapa saja sih pemateri di workshop ini? Ada tiga orang narasumber kece dari KWI yang baik hati berbagi ilmu dengan para emak IP Batam, yaitu Mba Heni, Mba Dian Ikha, dan Mba Dwi Arum.

Workshop ini bukan hanya one time event, tapi merupakan awal dari rangkaian proses untuk menelurkan buku antologi pertama dari Rumbel Menulis IP Batam. Doakan ya semoga kami para emak-emak ini bisa menghasilkan tulisan bermanfaat bagi banyak orang. Aamiinn..

Mungkin inilah jalannya, bagi impian-impian yang telah lama dicita-citakan sekaligus lama diendapkan.

 

Ibu-ibu Belajar Foto-foto? Seru, Lho!

Belajar, belajar, belajar. Itulah resolusi saya di tahun ini. Dan resolusi ini tentu sejalan dengan komunitas Ibu Profesional Batam yang selalu memfasilitasi anggotanya untuk belajar. Tahun ini diawali dengan belajar cekrak-cekrek, alias belajar foto. 

Biasanya kalau soal foto-foto, ibu-ibu ngga perlu diajarin, apalagi kalau foto aksi lucu si bocah-bocah, udah mahir banget deh! Tapi kali ini beda, bukan foto-foto aksi lucu anak-anak, melainkan memfoto makanan. Yap, acara Ibu Profesional Batam yang digelar hari Minggu, 21 Januari 2018 kemarin diisi dengan Workshop Basic Photography, khususnya Food Photography. Mengundang Mbak Yayuk Wulan sebagai narasumber, workshop ini pun diikuti ibu-ibu dengan penuh antusias. Anak-anak juga ngga mau kalah sama emak-emaknya. Ikutan antusias. Ngga percaya? Lihat aja nih.

Belajar foto

Belajar foto

(dibalik foto makanan enak, ada fotografer yang semangat)

Belajar foto

Sebelum mempraktikkan langsung, Mbak Yayuk memaparkan beberapa aspek penting dalam food photography, yaitu konsep, lighting, styling, komposisi, dan angel. Semua aspek ini menentukan hasil foto yang diambil, yang tentu saja dapat membuat siapa saja ngiler dan ga sabar icip-icip.

Tak kalah penting juga adalah pengaturan kamera. Dalam workshop ini digunakan kamera smartphone. Untuk kamera smartphone, pengambilan gambar baiknya dengan angel bird eye view atau flatlay. Yaitu mengambil gambar dari atas objek. Seperti contoh di bawah ini yang saya jepret sendiri. (maafkan hasil foto amatiran ini)

Belajar foto

Nah, seru kan? Setelah workshop ini, ibu-ibu mungkin akan lebih semangat memotret hasil masakan di rumah dengan teknik yang tepat.

Selain workshop, hari Minggu kemarin juga diisi dengan tausiah oleh ustadzah Afifatun Nisa, Lc. Kemudian dilanjutkan dengan acara bersejarah bagi komunitas Ibu Profesional Batam, yaitu peresmian Rumah Belajar Ibu Profesional Batam. Ada enam rumbel yang di-launching: Quran Learning Center, Rumbel Menulis, Rumbel Craft, Rumbel Menjahit, Rumbel Bisnis, dan Rumbel Memasak.

Alhamdulillah, acara workshop dan launching rumbel ini pun berjalan lancar, seru, heboh, dan ceria. Tak lupa juga diiringi doa dan harapan agar komunitas Ibu Profesional Batam dapat selalu menjadi wadah para ibu untuk dapat belajar, belajar, dan belajar menjadi lebih baik dalam mengemban amanah sebagai ibu, istri, dan individu. Aamiin.

Gara-gara Ikutan Rumbel Menulis

Gara-gara ikutan rumbel…

Blog mati suri, jadi hidup lagi

Gara-gara ikutan rumbel…

Ada ide ditulis, tak ada ide pun tetap menulis

Gara-gara ikutan rumbel…

Banyak teman cerita, walaupun jarang tatap muka

Gara-gara ikutan rumbel…

Kubeli domain TLD (ups!)

Rumbel

Yap, Rumah Belajar Menulis Ibu Profesional Batam telah membuat warna tersendiri dalam kegiatan tulis-menulis saya. Memang benar kata-kata yang pernah saya dengar, “carilah teman untuk menguatkan”, maka saya pun mencari teman yang sama-sama ingin menulis. Dan di Rumbel inilah saya menemukannya.

Tak tanggung-tanggung, teman-teman di rumbel ini kece-kece banget. Ada bu ketua yang banyak ide, ada yang produktif kalinulisnya, ada yang jadi hobi masak (lho?), ada yang selalu semangat arisan, dan ada yang siap bikin ketawa, dan banyaakk lagi.

Alhamdulillah, masyaallah..

Semoga rumbel ini selalu bisa menjadi wadah saling support antar anggotanya dalam tulis-menulis dan kebaikan lainnya. Aamiin..

Anak Mandiri, Ibu Harus Berani

“Ingin anak mandiri, ibu harus berani” itulah salah satu kesimpulan yang saya dapatkan setelah berusaha melatih kemandirian si kecil. Karena untuk mandiri ada beberapa risiko yang mungkin harus dihadapi.

Misalnya, saya melatih Thole makan sendiri, maka kemungkinan tersedak akan lebih besar. Tapi hal itu bisa diminimalisasi, misalnya dengan memberi biskuit yang sesuai usia dan tentunya selalu mengawasinya saat makan.

Tapi proses ini memang rewarding. Ada kepuasan setelah berhasil melatih Thole sampai benar-benar bisa makan biskuit dan minum sendiri.

Masih banyak hal-hal yang perlu dilatih, baik Thole maupun saya sendiri. Semoga setelah ini saya dan Thole bisa lebih siap dalam melatih kemandirian.