Dear, Thole..

Wah, arisan kali ini nama Mba Juli yang keluar, dan tema yang dipilih adalah “ungkapan cinta untuk anak”. Aiihh.. How sweet..

Kalau dipikir-pikir, mungkin bahasa cinta saya bukanlah verbal, namun lebih pada pelayanan, atau hadiah, atau yang lainnya. Mungkin itu juga sebabnya saya yang berbadan kurus dengan IMT kurang dari 20 ini masih kuat menggendong-gendong Thole. Walaupun saya jarang mengatakan “i love you” padanya.

Saya juga terkadang heran, betapa manusia kecil ini bisa mengubah seketika emosi saya, dari sedih menjadi senang, dari marah menjadi sumringah. Atau sebaliknya (ha!). Namun saya tetap sering lupa mengatakan “i love you” di telinganya.

Tak terhitung berapa banyak senyum yang telah ia ukirkan di hari-hari saya. Sehingga tiap hari begitu berwarna. Sayangnya, saya bukan orang yang mudah mengungkapkan cinta..

Tapi karena tema kali ini adalah ungkapan cinta untuk anak, so, i’ll try. Here we go…

Dear Thole,

I love you.💗

Meluangkan Waktu Demi Waktu Luang

Ada dua kenikmatan yang banyak manusia tertipu, yaitu nikmat sehat dan waktu senggang”. (HR. Bukhari no. 6412, dari Ibnu ‘Abbas)

Mendengar kata “waktu luang” membuat pikiran saya berkelana ke masa lalu. Ketika setiap hari adalah waktu luang. Saking luangnya, sampai bingung mau ngapain lagi. Seolah sudah melakukan semuanya, padahal belum melakukan apa-apa. Hahaha..

Menjadi seorang emak-emak tak berarti kehilangan waktu luang atau me time. Hanya saja, ini menjadi sesuatu yang tricky. Waktu luang atau me time tak harus berjam-jam, tak harus pergi ke luar, nonton bioskop, atau nyalon. Bagi saya pribadi, membaca atau menulis ditemani secangkir teh hangat pun bisa menjadi me time yang sangat berharga.

Lalu bagaimana mendapatkan kesempatan berharga ini? Pertama, mengatur waktu. Ini hal penting yang saya juga masih amatir. Tapi benar-benar terasa bedanya jika semua kegiatan sudah teratur, maka akan ada waktu luang.

Kedua, percayalah, pekerjaan rumah tak ada habisnya. Jadi jangan selalu mendahulukan pekerjaan domestik. Istirahatlah, luangkanlah waktu untuk “bernapas”.

Ketiga, waktu luang itu diciptakan. Misalnya dengan bangun lebih pagi, atau Htidur lebih malam demi me time.

Dan yang terpenting adalah jangan terlena dengan waktu luang. LManfaatkanlah waktu luang sebaik-baiknya agar kita tidak menjadi orang yang tertipu.

Nah, kalau ada waktu luang, yuk intip blognya mba Ovie..insyaallah bermanfaat 😁

“Bunda, Jangan Marah”

Menceritakan sebuah pengalaman yang bisa menginspirasi membuat saya kembali membuka lembaran yang telah dilalui. Semoga salah satu pengalaman saya ini bisa memberi inspirasi para emak-emak.

Kali ini berhubungan dengan pengalaman saya ketika menjadi pembin asrama di sebuah sekolah asrama. Kala itu, ada seorang murid kelas 8, sebut saja Lala. Lala ini ceritanya sakit mata, dan menurut aturan sekolah, kalau anak sakit mata maka sebaiknya dipulangkan dulu karena khawatir menular. Akan tetapi Lala menolak, dengan keras.

“Saya ngga mau pulang, Bu! Ini gak apa-apa.”

“Tapi kalo temen-temen ketularan, gimana?”

“Pokoknya saya ga mau pulang!”

Tanpa persetujuannya, saya pun mengabari ibunya dan meminta agar Lala dijemput. Kira-kira dua jam kemudian sang ibu datang, Lala kaget. Ia masih bersikukuh menolak dan tetap diam di kamarnya. Saya pun meminta ibunya Lala untuk menunggu di mobil sembari saya membujuk Lala.

Di atas kasurnya, Lala masih duduk memeluk kakinya dan menangis. Ia benar-benar tak ingin pulang. Setelah bertanya-tanya, ternyata yang membuatnya enggan pulang adalah sikap kasar ibunya.

Menurut cerita Lala, ibunya seringkali memarahi bahkan bertindak kasar hanya karena kesalahan kecil. Hal itu membuat Lala takut untuk pulang. Saya pun kasihan melihatnya. Tapi saya tetap harus membujuknya untuk pulang.

Satu per satu ceritanya saya dengarkan, barulah saya berusaha menasihatinya. Bahwa ibunya tentu tak berkeinginan berbuat demikian. Bahwa memarahi anak juga merupakan hal yang menyakitkan bagi seorang ibu. Dan walaupun sulit, saya meminta Lala untuk memaafkan ibunya, dan berusaha memahami. Serta menghindari hal-hal yang bisa membuat ibunya marah.

Tak kurang setengah jam saya habiskan membujuknya, sampai akhirnya berhasil. Lala pun tak lagi menolak untuk dipulangkan sementara. Perasaan lega muncul, namun juga miris.

Terlalu banyak pelajaran yang saya dapat hari itu. Tentang bagaimana perasaan seorang anak dapat terlukai, hingga membuat lingkungan di luar rumahnya lebih ia sukai. Tentang cara bersabar saat menghadapi anak-anak, dan banyak lagi.

Perlu dicatat juga bahwasannya ibunya Lala juga sangat baik pada Lala. Ia memilihkan sekolah yang menurutnya terbaik, memberikan berbagai fasilitas, mengajak jalan-jalan, dll. Namun rupanya semua itu tak lantas menghapus memori buruk dalam diri Lala.

Now that i have a son myself, hope i can protect my son from my anger.

Yap, semoga secuplik pengalaman ini bisa bermanfaat bagi kita.

Terima kasih sudah membaca tulisan ini. Jangan lupa juga kunjungi blog teman saya, mba Moniq, yaa untuk tulisan inspiratif lainnya.. 😉