No Gorengan di Bulan Ramadan

Tema arisan tulisan kali ini adalah “Ramadan”. Yap, bulan suci yang sudah di depan mata ini tentu harus disambut dengan baik, lahir dan batin. Akan tetapi dalam tulisan ini saya tidak akan membahas perihal ibadah di bulan Ramadan, biarlah itu menjadi rahasia kita dan Allah. Insyaallah.

Lalu, rencana apa yang ada di keluarga kami untuk Ramadan tahun ini?

Pertama, dan yang utama, adalah “No Gorengan Saat Buka Puasa”

“Pokoknya ngga ada gorengan pas buka puasa.” Saya mengultimatum diri sendiri dan suami.

“Palingan aku pulang-pulang udah bawa gorengan beli di kantor,” sahut si bapak.

“Iiih, jangan lah.”

*bapak cengengesan*

“Yaudah,” kata saya, “satu satu aja gapapa.” hahahaha.

No Gorengan?? Is it even possible?? Bagi orang-orang seperti kami yang terbiasa berbuka dengan goreng-gorengan, hal ini adalah sebuah tantangan besar. Saya pribadi penasaran apakah bisa atau tidak? Karena sebagai ganti gorengan, tentu harus ada makanan lain. Makanan pengganti inilah yang belum saya rencanakan dengan baik. Wkwk..

Sebelumnya, yang dimaksud gorengan di sini adalah gorengan yang dibeli di luar. Jadi tidak masalah makan goreng-gorengan asalkan bikin sendiri, dan tidak sering-sering. Kami menghindari gorengan ini karena alasan kesehatan. Mengapa? Karena si bapak berat badannya baru saja turun beberapa kilo, somehow. Padahal selama ini berusaha menurunkan tapi sulit. Jadi, supaya ngga melesat lagi, harus dibatasilah makanannya.

Selain itu, walaupun saya pribadi ingin menambah berat badan, tapi saya merasa harus mengurangi asupan lemak jenuh. Sudahlah kurang aktifitas fisik, kurang olahraga, pantas saja badan terasa kurang bugar. Nah, salah satunya supaya agak bugar, saya ingin mengurangi asupan lemak jenuh, which means mengurangi gorengan.

Rencana selanjutnya adalah, membuat masakan yang super simpel *garis bawah pada kata “super”.

Alasannya, saya dan suami kalau sudah berurusan dengan masak memasak pasti lamaa sekali. Minimal bisa menghabiskan waktu 1,5 jam, atau dua jam. Padahal cuma masakan yang sederhana. Jadi, rencananya di bulan Ramadan ini kami akan mencari masakan yang lebih mudah, super simpel dan cepat. Soal rasa urusan nanti, yang penting edible. Hehe. Tujuannya agar waktu yang berharga di bulan suci ini bisa dimanfaatkan untuk hal lain. Pokoknya meminimalisasi waktu-waktu untuk kegiatan lain.

Lalu bagaimana caranya? Demi menyingkat waktu memasak, saya telah membeli sejumlah bumbu masak instan yang tinggal pakai saja. Ini membuat kegiatan memasak jadi super mudah, cepat, dan lumayan enak! Eh, jadi kayak promosi.

Ketiga, mengurangi jajan. Ini juga tantangan berat. Hehehe.. Biasanya dalam seminggu kami bisa tiga kali, bahkan lebih, jajan diluar. Kadang hanya snack, kadang makanan berat. Intinya jajan. Bulan Ramadan ini semoga bisa mengerem pengeluaran jajan sehingga bisa dialihkan untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

Sekaligus ingin melawan kebiasaan lebih boros di bulan Ramadan. Padahal seharusnya kan bisa lebih hemat yak. Mungkin karena laper mata, jadi terkadang membeli ini itu melebihi kapasitas perut.

Menyiasatinya mungkin bisa dengan mengurangi jalan-jalan, dan menambah resep simpel untuk ta’jil.

Itulah tiga tantangan besar yang kami berencana untuk menaklukan. Semoga Allah mudahkan. Aamiin.

Selamat menyambut bulan Ramadan, selamat memanfaatkan dengan sebaik mungkin.

Nb: alhamdulillah, sampai hari ketiga Ramadan masih bisa bertahan tanpa gorengan. Walaupun banyak sekali godaan di luar sana. Hehe..

Jibril telah mendatangiku, kemudian ia berkata: “Celakalah orang yang menjumpai Ramadhan lalu tidak diampuni”. Maka aku menjawab: “Amin”. (HR. Al Hakim)

Agar Tak Berkomentar Jahat

Berawal dari obrolan santai tapi berisi di WAG ODOP (One Day One Post), mengenai keprihatinan akan media sosial saat ini yang dipenuhi komentar-komentar negatif. Bahkan ketika seseorang sebenarnya tak perlu berkomentar, tapi tetap berkomentar, negatif pula. Maka tercetuslah ide untuk menggembar-gemborkan ajakan agar berkata baik atau diam.

“Berkata baik atau diam”

“Diam itu emas”

Sungguh mudah, dan biasa didengar kalimat-kalimat ini. Namun mengaplikasikannya adalah hal berbeda. Menjadi sebuah tantangan besar, apalagi di era seperti sekarang ini. Semua orang bebas bicara, di dunia nyata, terlebih di dunia maya. 

Dalam tulisan kali ini saya ingin berbagi tips agar kita dapat mengendalikan jemari di dunia maya dan memilih untuk #BerkataBaikAtauDiam.

  • Lihat hanya yang Anda senangi

Jika Anda tidak menyenangi ‘anak-anak’, maka tidak perlu membuka video seputar anak. Jika tidak menyukai seorang artis, maka jangan membuka postingan artis tersebut. Sebenarnya ini sangatlah mudah, tapi seringkali kita tergoda. Entah untuk sekedar iseng, atau alasan lain yang ujung-ujungnya membuat jempol ingin berkomentar buruk.

Di Facebook misalnya, jika ada seseorang yang tulisannya kerap membuat mata sakit, maka saya memilih untuk meng-unfollow akunnya. Just that simple.

  • Batasi waktu

Berikan batas waktu saat berselancar di dunia maya. Misalnya, “saya akan membuka medsos selama 10 menit”, kemudian patuhilah. Cara ini dapat mencegah Anda berlama-lama memandangi status orang dan tergoda berkomentar nyinyir. Selain itu Anda juga dapat memanfaatkan waktu untuk hal lain yang lebih bermanfaat.

  • Apa manfaat tulisan saya?

Tanyakan ini sebelum berkomentar atau menuliskan status. Adakah manfaat yang bisa dipetik jika Anda menuliskan komentar tersebut? Bagi Anda maupun masyarakat? Jika ada, dan benar ada, bukan mengada-ada, maka tulislah. Tapi jika tidak, maka berhentilah. Suatu hari nanti Anda akan bersyukur karena terhindar dari perbuatan tak bermanfaat.

“Dunia ini memang selalu memiliki sisi baik dan buruk, tapi berusahalah untuk selalu berada di sisi baik.”

  • Letakkan smartphone

Hidup tak melulu di depan layar smartphone, maka letakkanlah dan berkegiatanlah. Ketika tergoda untuk menuliskan hal yang tidak bermanfaat, maka segera tinggalkan dan berpindah pada kegiatan positif, misalnya membaca, memasak, olahraga, dan banyak lagi.

  • Sibukkan diri dengan hal positif

Jika diri kita tidak disibukkan dengan hal positif, maka kita akan cenderung pada hal negatif, seringkali tanpa disadari. Karena itu sibukkanlah diri dengan hal positif sehingga tak ada waktu untuk hal negatif.

Satu hal lagi yang penting, perihal berkata baik ini bukan hanya di dunia maya, tapi juga di dunia nyata. Karena perkataan tidak baik dapat menyakiti hati orang lain tanpa tidak kita sadari. Tentunya kita tak ingin menyakiti hati orang lain, bukan? Sebagaimana kita pun tak ingin disakiti. Terlebih lagi, hanya karena ucapan yang mungkin iseng, namun menyakiti orang lain, dan akan mempersulit kita di hari akhir kelak. Nah lho, repot banget kan yak!

Melalui tulisan ini saya juga ingin meminta maaf kepada teman-teman yang pernah tersakiti oleh kata-kata atau tulisan saya. Mohon maaf sebesar-besarnya. Semoga kita semua selalu diberi jalan oleh Allah untuk menjauhi kemungkaran dan melakukan kebaikan. Aamiin.

Semoga tips ini dapat bermanfaat, dan menjadikan kita lebih bijak dalam bicara, di dunia maya dan dunia nyata. Karena saya meyakini bahwa setiap orang fitrahnya adalah baik, menyukai kebaikan, ingin dibaiki. Maka marilah kita berbuat baik, berkata baik. Jika tidak bisa, maka diam lebih baik. Selamat berbuat baik!

Dari Abu Hurairah bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Barang siapa yang beriman kepada Allah dan Hari Akhir maka hendaklah ia berkata baik atau hendaklah ia diam.”  (Muttafaq ‘alaih: Al-Bukhari, no. 6018; Muslim, no.47)

Banyak Orang Tidak Mengerti

Banyak orang tidak mengerti, bahwa ketika peraturan ditetapkan, maka harus dipatuhi.

Banyak orang tidak mengerti, bahwa masih ada orang yang mau, dengan senang hati, mengikuti peraturan. Apalagi peraturan itu sejalan dengan aturan Allah, Tuhan semesta alam.

Banyak orang yang tidak mengerti, bahwa ketika seseorang bilang “tidak”, maka artinya benar-benar “tidak”. Bukan sekedar basa-basi.

Banyak orang tidak mengerti, bahwa masih banyak orang yang takut api neraka.

Saya tidak mau minta maaf, karena mematuhi perintah dan aturan dari Allah adalah sebuah kewajiban, dan bukan kesalahan.

Banyak orang yang tidak mengerti, atau tidak mau mengerti. Tapi harap simpan untuk diri Anda sendiri. Jangan cipratkan api neraka itu pada kami.

Semoga Allah berikan hidayah pada kita semua. Aamiin.

Batam, 10 Mei 2018

*Maafkan curcol Mama Thole yang lagi kesal..hehe..

Blog Ibuknya Khalid: Inspirasi Mamak Muda

Sederhana namun misterius, itulah kesan yang saya dapat dari pertemuan pertama (dan kedua) dengan Si Ibuk. Seiring berjalannya waktu, sisi misterius itu terjawab. Rupanya Ibuk ini memang luar biasa. Apanya yang luar biasa? Yuk, tengok review berikut ini.

Saya bukan tipe yang betah berlama-lama di blog orang, kecuali memang menarik, atau relevan. Kedua hal itulah yang saya temukan di blog Ibuk. Menarik, karena penulisan yang santai namun tetap berisi. Sebagai emak muda yang suka pusing dengan tingkah polah anak, saya sih lebih senang dengan bacaan yang santai, lucu. Bisa jadi hiburan, tapi tetap banyak manfaat yang bisa diambil.

Tema lifestyle yang sangat melekat dengan kehidupan sehari-hari juga menjadi sebab saya senang hinggap di blog Si Ibuk. Ada tulisan resep masakan, tips-tips pengasuhan anak, review restoran, dan banyak lagi. Salah satu favorit saya adalah resep Sapo Tahu Ayam. Pasalnya, saya menunjukkan resep dan video ini pada pak suami, dan dia langsung bersemangat mencoba. Saya pun ngikut saja. Alhasil, sekarang sapo tahu modifikasi dari resep tersebut telah menjadi bagian dari menu wajib tiap pekan. Hehe.. Selain sapo tahu, resep ayam saos padang juga pernah kami coba, dan hasilnya cukup memuaskan. Sejauh ini ada tujuh tulisan di kategori resep di blog Si Ibuk. Mungkin salah satunya bisa jadi favorit Anda?

Dengan empat tema utama yaitu parenting, review, kuliner, dan traveling, ada beragam kategori yang bisa pembaca temukan di blog Ibuk. Dari membaca lintas kategori inilah saya menemukan sisi luar biasa Si Ibuk. Bayangin aja nih yaa, Si Ibuk ini tidak hanya rajin bikin postingan blog, tapi juga merangkap mompreneur dan mombassador juga! Kesibukan itu juga tidak membuat Ibuk lupa refreshing. Ada banyak tulisan seputar review tempat wisata dan tips-tips traveling. Cocok nih buat yang punya balita dan tetap ingin ber-traveling ria, bisa intip tips dan trik dari Ibuk.

Ibuk juga rajin berinovasi. Diantaranya adalah membuat tulisan kolaborasi dengan tagar #CakapMamak yang di-update setiap Jumat. Sesuai tagarnya, #CakapMamak bercerita tentang berbagai hal terkait urusan emak-emak dan bisa menjadi inspirasi bagi mamak muda lainnya. Misalnya #CakapMamak dengan tema Anakku Aturanku, tulisan ini kemudian saya ceritakan pada suami dan menjadi ide diskusi mengenai aturan di rumah kami. Inovasi terbarunya adalah tulisan kolaborasi dengan tema #MamakSetrong. Ah, ngga bakal bosen deh pokoknya dengan blog Ibuk ini.

Sisi lain yang bisa menginspirasi mamak-mamak dan perempuan pada umumnya adalah sekelumit perjalanan hidup Ibuk yang dituangkan dalam tulisan di blog. Ada pelajaran yang bisa dipetik, mulai dari kehidupan Ibuk sebelum menikah, setelah menikah, dan lika-liku mendampingi Khalid, anaknya Ibuk.

Gimana? Penasaran kan sama tulisan-tulisan Si Ibuk? Langsung aja lah kunjungi blognya di www.desyoktafia.com. Tenang saja, tampilan blognya simpel kok, ngga berat untuk dibuka, dan halaman utama yang nyaman dilihat para pengunjung. Pengunjung bisa pilah-pilih artikel yang ingin dibaca dengan mudah. Eits, ada channel lain jg lhoo..

Youtube: Desy Oktafia

IG: @desyoktafia

Twitter: @desyoktafia

FP: desyoktafiadotcom

Semoga review ini bermanfaat yaa.. Dan semoga kita semua bisa mengambil kebaikan dari blog Ibuk..hehe..

Perjalanan Si Passion

Setelah dua blog post tentang Thole, rasanya tak apa jika kali ini tentang mama Thole, alias saya sendiri XD

Tepatnya kali ini adalah tentang passion. Kalau membahas tentang passion, yang langsung terpikir oleh saya adalah menulis. Yaa walaupun saat ini belum bisa konsisten meluangkan waktu untuk menulis, paling tidak inilah kegiatan yang saya sukai sejak dulu. Sejak kecil.
Well, this is how i fall in love with writing…

Sejak kecil, mungkin kelas 2 atau 3 SD, saya gemar membaca buku-buku milik kakak saya. Paling sering saya baca adalah Goosebumps dan tontonannya anime Ghost At School. Lama-kelamaan keinginan menulis itu muncul. I wanna make my own story. Maka tak heran jika di awal-awal menulis tema tulisan saya pasti cerita horor. Ala bocah SD tentunya. Hahaha..

Beranjak dewasa, sekitar SMP, bacaan mulai bergeser, tulisan pun berubah. Saya jadi lebih senang menulis cerpen bertema kehidupan sehari-hari. Kala itu saya bisa selesai menulis sebuah cerpen dalam sekali duduk. Sekarang? Boro-boro buuk, duduknya aja mesti cari waktu khusus..hehe..

Masa-masa SMP-SMA adalah yang paling produktif menulis. Pernah juga mengikuti workshop menulis yang diadakan Gagas Media kala itu. Semangat pun membara. Kemudian luntur dengan cepat ketika menginjak bangku kuliah.

Passion itu pun mati suri. Ide-ide yang muncul tak pernah tereksekusi dengan baik. Bahkan saya sempat melupakannya, merasa sudah tak bisa dan tak nikmat lagi menulis. Sampai akhirnya saya bertemu Tere Liye.

Haha.. Ngga sih, lebih tepatnya saya menonton Tere Liye secara live. Jadi ketika itu, sekolah tempat saya bekerja mengundang Tere Liye untuk sebuah acara. Saya pun ikut menonton, walaupun tidak dari awal karena saya bukan fansnya juga. Namun ada kata-katanya yang sangat mengena. Ia bilang bahwa semua orang bisa menulis, orang yang sudah lama tidak menulis pun, bisa menulis. Tak menunggu lama, saya langsung kembali ke kamar dan mulai menulis. 

Saya mulai mencari kegiatan yang berhubungan dengan tulis menulis, termasuk lomba menulis. Rupanya takdir membawa saya pada kegiatan Workshop First Reader GagasMedia. Sebuah kegiatan yang membuat saya merasa “this is where i belong”. 

Kegiatan workshop first reader itu berlangsung dalam beberapa kali pertemuan. Para peserta diminta membaca naskah novel yang baru masuk, kemudian memberikan penilaian dan mendiskusikannya dari berbagai segi. Seru banget rasanya, berkumpul dengan orang-orang sehobi, bertemu para editor. Beberapa dari naskah yang kami ulas waktu itu sekarang sudah benar-benar terbit menjadi sebuah novel. Ketika melihatnya di toko buku, saya pun teringat masa-masa indah itu. Aihhh..

Tak berselang lama, saya juga mengikuti sebuah lomba menulis cerpen yang diadakan oleh Diva Press. Alhamdulillah, cerpen sederhana itu keluar sebagai juara dan ikut bertengger dalam sebuah buku antologi yang (kalau tidak salah ingat) berjudul “La Tahzan, Kunci Bahagia Itu Simpel Kok!”. Dari sini lah kemudian kepercayaan diri untuk mulai menulis kembali tumbuh, meski tak langsung subur dan berbuah. 

Sekarang, setelah menjadi seorang ibu muda, sambil bergelut dengan kesibukan mengurus suami, bocah, dan rumah, saya berusaha menjaga semangat itu dengan menulis di blog ini. 

Bagaimana dengan Anda? Sudahkah menemukan passion? Passion itu kalau menurut beberapa kulwap yang saya ikuti, adalah kegiatan yang kita senangi, dan tidak bosan walaupun dilakukan berkali-kali. Selain passion, istilah yang lekat dengan passion adalah bakat. Nah, kalau untuk bakat ini, Anda bisa jajal tes di www.temubakat.com. Semoga bermanfaat ya..

“People around me said that I never take medicine. Well, they are wrong. Books and writing are my medicine. And I take them, a lot.”