Begini Toh Ternyata Flu Singapur Itu

Sore selepas mandi, Thole demam. Perlahan naik dan naik suhunya. Sampai menjelang tidur badannya panas sekali. Saya tidak lantas panik, karena dia masih terlihat aktif, walaupun memang malam itu dia tidur lebih cepat. Mungkin karena lemas. Malam itu pun dia tidur dengan nyenyak seperti biasa.

Paginya, alhamdulillah demamnya sudah hilang. Thole bangun dengan ceria. Eh, tapi kok tiba-tiba ada bejendol-bejendol di bagian sikunya? Kanan dan kiri pula. Wah, kenapa lagi nih? Lagi-lagi saya masih santai, karena kelihatannya tidak gatal, dan anaknya masih anteng. Masih nafsu makan masakan saya yang ngga ada rasanya.Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Keesokan harinya jendolan-jendolan membesar, mirip cacar, tapi tidak berair. Selain itu muncul juga di kaki, punggung, dan dekat bokong, tapi ukurannya kecil-kecil. Tidak sebesar di siku. Saya tetap tenang.

Saya hanya balurkan lotion bayi sesekali, pernah juga minyak butbut dari tetangga. Tapi sepertinya tidak berpengaruh. Hari ketiga saya agak kepikiran juga, karena jendolan tersebut berubah menjadi seperti bekas luka. Akhirnya saya dan suami membawa Thole ke dokter untuk mengetahui penyakit apa ini. Khawatir itu cacar, walaupun unlikely siy.

Setelah memeriksa sampai ke bagian punggung, bokong, dan mulut, dokter pun menegakkan diagnosis Hand Foot and Mouth Disease (HFMD) atau yang umum disebut flu singapur. Ternyata di mulut Thole juga ada dua jendolan, kata dokter. Tapi alhamdulillah hal itu tidak mengganggu aktivitas makannya, tetap lahap. Dokter tidak memberikan obat minum, karena penyakit ini disebabkan virus, dan dapat sembuh dengan sendirinya dalam waktu sekitar 3 sampai 7 hari. Dokter hanya menyarankan agar banyak makan dan banyak minum.

“Menular ngga, Dok?” tanya suami.

“Sangat, Pak, sangat menular.”

Wew, mana dari kemarin Thole tetap main seperti biasa. Jadi khawatir teman-temannya tertular.

“Tapi tergantung imunitas tiap orang juga. Kalau lagi fit ya bisa ga tertular,” tambah dokter.

Benar saja, keesokannya jendolan-jendolan tersebut kempes sendiri, berganti menjadi seperti bekas luka. Dan beberapa hari kemudian hilang dengan sendirinya. Alhamdulillah. Sayangnya ada satu teman Thole yang kebetulan main, of all day, dan akhirnya ketularan 🙁

Tapi anak tetangga yang beberapa kali main bareng malah tidak tertular.

“Hendaklah engkau tahu bahwa sesuatu yang ditakdirkan akan menimpamu, tidak mungkin luput darimu. Dan segala sesuatu yang ditakdirkan luput darimu, pasti tidak akan menimpamu.” (HR Ahmad)

HFMD ini, menurut situs Baby Center, adalah penyakit yang umum terjadi pada anak balita. Jadi tidak perlu panik. Namun tingkat keparahan bisa berbeda-beda. Misalnya Thole, di mulut tidak banyak sariawan, jadi bisa tetap makan dan tidak rewel. Sedangkan temannya yang tertular rupanya banyak sariawan sehingga rewel dan ngga bisa makan minum.

Intinya jangan panik dulu ya buibu.. 🙂

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *