“Kena, deh!”

“Kena, deh!” adalah sebuah acara komedi/reality show yang dulu pernah tayang di TV. Dalam acara tersebut, kamera rahasia sengaja diletakkan untuk merekam respon orang-orang yang akan dikerjain. Nah, kurang lebih seperti itulah yang terjadi.

Jadi, ceritanya, suami saya adalah orang yang sebenarnya humoris dan senang bercanda. Suatu hari, di rumah, ia pun membuat suara-suara lucu nan menggemaskan (hahaha). Tanpa sepengetahuannya, saya memulai tombol rekam di handphone sambil terus memancing agar dia melanjutkan tingkah lucunya itu.

“Yeeyy, dari tadi aku rekam..!hahaha..” sorak saya ketika tak mampu lagi menahan tawa. Dia pun seketika malu dan ikut tertawa ketika mendengar hasil rekamannya..hahaha..

Anak Mandiri, Ibu Harus Berani

“Ingin anak mandiri, ibu harus berani” itulah salah satu kesimpulan yang saya dapatkan setelah berusaha melatih kemandirian si kecil. Karena untuk mandiri ada beberapa risiko yang mungkin harus dihadapi.

Misalnya, saya melatih Thole makan sendiri, maka kemungkinan tersedak akan lebih besar. Tapi hal itu bisa diminimalisasi, misalnya dengan memberi biskuit yang sesuai usia dan tentunya selalu mengawasinya saat makan.

Tapi proses ini memang rewarding. Ada kepuasan setelah berhasil melatih Thole sampai benar-benar bisa makan biskuit dan minum sendiri.

Masih banyak hal-hal yang perlu dilatih, baik Thole maupun saya sendiri. Semoga setelah ini saya dan Thole bisa lebih siap dalam melatih kemandirian.

Memahamkan Anak tentang Allah

Ah, berat sekali tema arisan kali ini, plus waktu yang lebih sedikit. Memahamkan anak tentang Allah? Saya sendiri saja belum paham, bagaimana bisa mengajarkan anak. Alhamdulillah Thole masih 13 bulan dan belum bertanya macam-macam. Artinya, saya masih bisa belajar dulu.

Suatu hari saya pernah mendengar pengalaman seorang ayah dalam menjelaskan pada anaknya tentang Allah.

“Nak, kamu tidak akan melihat Allah selama masih hidup di dunia ini. Jadi jika ada yang mengaku tuhan, itu pasti bohong.” Kurang lebih demikian si bapak menerangkan dan dibenarkan oleh ustad.

Dalam sebuah ceramah pula saya pernah mendengar bahwa setiap orang secara fitrahnya adalah Islam dan mengetahui Allah. Apabila seorang anak kecil masih terjaga fitrahnya, tidak terkontaminasi hal-hal negatif (seperti tontonan tidak mendidik atau musik), maka ketika ia sudah mulai bisa diajak ngobrol dan ditanya “Allah ada di mana?” anak tersebut akan refleks menunjuk ke atas.

Bagaimana saya mengenalkan Allah pada Thole? Saat ini saya sendiri baru mencoba mengakrabkan telinganya dengan bacaan alquran dan sering mengajaknya berdoa. Misalnya, “dede sakit perut ya? Yuk, mohon sama Allah, supaya Allah sembuhkan dede.” Selebihnya, saya masih perlu banyak belajar agar saya pribadi bisa benar-benar mengenal Allah.

Terima kasih Mba Ulfa yang telah memberi tema arisan kali ini.

Mengisi Tangki dengan Ngelendot

Supaya judul random ini keliatan maksudnya, marilah segera kita bahas saja.

Mengenai bahasa cinta Thole tentu saja belum benar-benar ketahuan. Tapi jika diamat-amati, bocah ini sepertinya lebih ke arah sentuhan fisik. Mengapa?

Karena Thole ini entah kenapa sering ‘ngelendot’ di paha saya atau bapaknya. Kalau sedang ngelendot, biasanya saya langsung usap-usap punggungnya.

Ngelendot ini bisa tiba-tiba. Lagi asik main sendiri atau main sama teman, mendadak ngelendot. Lagi makan, ngelendot. Sebentar siy memang, hanya paling semenit. Mungkin saat ini itulah cara memenuhi tangki cintanya dengan cepat.

Bicara tentang ngelendot. Saya teringat kakaknya teman saya, sebut saja Tomi. Suatu hari saya pernah main ke rumah teman saya itu, dan ketika masuk sholat magrib kami sholat berjamaah, termasuk dengan Tomi dan ortunya. Setelah selesai sholat dan dzikir, ada hal menarik. Si Tomi yang hanya lebih tua setahun dari saya ini tiba-tiba menghampiri ibunya dan tiduran bersandar, ngelendot, di paha ibunya.

Saat itu ibunya duduk di sebelah saya. Ibunya langsung mengelus-elus kepala Tomi dan mereka ngobrol santai.

Saya pun takjub dengan adegan ini. Karena Tomi tak malu-malu menunjukkan kedekatan dengan ibunya di depan kami, teman-teman adiknya. Ibunya pun memang orang yang lemah lembut.

Ah.. Manis sekali lah pokoknya.. Saya pun ingin kelak anak lelaki saya tak segan menunjukkan sayang dan cintanya. Mungkin diawali dengan ngelendot.

Tentang bahasa cinta ini, yuk kita baca pengalaman berbeda mama krucils yang kece.

Berburu Sate Ayam Enak di Batam

Bukan, saya bukanlah orang yang hobi wisata kuliner atau mencoba atau menilai jajanan baru. But when it comes to sate, it’s a different story.

Sate adalah makanan favorit saya. Karena itu saya cukup kecewa ketika mendapati beberapa sate di Batam yang tidak sesuai selera. Ada yang besar-besar dan enak, tapi sangat mahal. Ada yang murah, tapi kecil-kecilnya terlaluu.

Tak ingin kecewa lagi, saya pun berhenti mencari. Namun justru ketika itulah takdir membawa saya ke blog emak Khalid dan membaca review King Sate. Beberapa hari kemudian, saya mendapati diri saya telah berada di King Sate.🤣

Here it is. Sebelumnya saya juga mendengar komentar teman yang bilang sate taichan disini ga enak. Tapi itu tidak menyurutkan niat saya untuk mencoba. Karena yang saya mau itu sate ayam madura-nya.

Yes, this is it.

So, how’s the taste? Believe me when i tell you, ayamnya empuukk bangeett kayak bantal (hehe). Sepertinya dimasak dengan slow cook *sok tau*. Saya sendiri lebih suka yang ayamnya agak “ngelawan”. Kemudian bumbu kacangnya lumayan enak, walaupun alus banget kacangnya.

Harga sate ayam madura satu porsi (9 tusuk plus lontong) Rp23.000. Ada juga opsi setengah porsi (6 tusuk plus lontong) Rp16.000. Fyi, lontongnya juga gede-gede.

Sate Boffet

Sate kedua yang akan saya bahas disini adalah sate ayam Boffet. Letaknya di ruko Tiban Impian. Nah, harga sate disini jauh lebih murah. Hanya Rp13.000 sudah plus lontong. Tapi jelas, ukurannya hanya setengah (atau bahkan sepertiga?) dibanding King Sate. Daaan, kacang di bumbunya itu masih kasar, jadi serasa makan rujak. It’s not a bad thing though. Hehe.

Sate Madura (depan Taman Sari)

Nah, yang satu ini cocok dengan peribahasa “don’t judge the sate, by it’s gerobak”. Walaupun tempatnya bukan di ruko besar, ternyata justru sate inilah yang saya cari! Rasanya paling mendekati selera saya! Ukurannya pun sedang, dengan tingkat kematangan yang pas! Tidak keras, tidak terlalu empuk. Harga bersahabat, Rp14.000 per porsi, 10 tusuk plus lontong. Lha, macem promosi aja ya 🤣

Lokasinya di depan pintu masuk perumahan Taman Sari Tiban, dekat martabak Yapora.

Dan pencarian pun berujung indah. Alhamdulillah.

Bagi Anda penggemar sate madura, mungkin tiga tempat ini bisa dipertimbangkan. 🙂